MENEGASKAN SEMANGAT PROFETIK


Oleh: Achmad Saeful**

Dapat dipastikan jika bangsa ini tengah berada dalam kondisi karut-marut. Krisis berkepanjangan yang menerpa bangsa ini, baik dalam lingkup politik, ekonomi dan moral merupakan fakta konkret yang tidak mungkin dinafikan keberadaaannya. Dalam lingkup politik, bangsa ini masih terjebak dalam drama konfliktual. Dalam kasat mata terlihat jelas bagaimana para politikus sering terjebak dalam intrik meraih kekuasaan daripada berpikir dan beraksi untuk mewujudkan cita-cita kebajikan bersama.

Pada tataran ekonomi, bangsa ini pun belum mampu keluar dari cengkereman krisis berkepanjangan. Ini dapat dibuktikan dari kondisi masyarakat yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini, diperparah dengan runtuhnya semangat moralitas yang menimpah seluruh elemen bangsa, baik pada tingkat pemerintahan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Seakan-akan, Indonesia merupakan bangsa yang lembek dalam menjunjung tinggi semangat moralitas. Ada benarnya yang diungkapkan oleh Gunnar Myrdal (1898-1987), bahwa Indonesia merupakan negara lunak (sofe state), yaitu negara yang pemerintahan dan warga negaranya tidak memiliki ketegaran moral yang jelas, khususnya moral sosial-politik. Sepertinya, ketidaktegaran moral sosial-politik yang terjadi pada warga negara ini, disebabkan tidak ada figur dari para pemimpin bangsa yang layak untuk dijadikan teladan. Dengan kata lain, kehidupan moralitas rakyat akan menjadi baik, apabila para pemimpin bangsa mampu memberikan contoh yang baik.

Persoaolan-persoalan di atas menuntut diadakannya sebuah perbaikan. Tanpanya, mustahil bangsa ini dapat keluar dari kondisi yang memprihatinkan. Tidak berlebihan, jika kiranya perbaikan itu mesti dimulai oleh para pemimpin bangsa yang memiliki semangat profetik, yaitu semangat yang terejahwantahkan dari pribadi integral dan terramu dalam sikap keikhlasan, kejujuran dan keterbukaan dalam mewujudkan masyarakat berkeadilan.

Para pemimpin yang memiliki semangat profetik selalu menyandarkan diri dalam bingkai kesadaran ketuhanan, bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap pengambilan keputusan dan akan meminta pertanggungjawaban dari setiap noktah tindakan. Sehingga, gaya kepemimpinannya selalu diarahkan dalam rangka mewujudkan budi pekerti luhur.

Budi pekerti luhur merupakan salah satu wujud kedirian manusia yang paling tinggi. Di hadapannya (budi pekerti luhur), semua kekuatan fisik, mental dan kekuasaan tidak berdaya. Para pemimpin yang mengedepankan budi pekerti luhur cenderung mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan segalanya. Dan menyadari dengan sepenuh jiwa bahwa kepemimpinan yang dimilikinya merupakan bentuk kepercayaan rakyat yang harus dilaksanakan dengan semangat kejujuran dan keterbukaan.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia hanya dapat dipimpin oleh mereka yang memiliki budi pekerti luhur. Dengan begitu, para pemimpin akan mampu membangun bangsa secara baik. Mesti disadari oleh semua elemen bangsa, bahwa kekuasaan dan budi pekerti luhur bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kekuasaan tanpa diiringi budi pekerti luhur dapat meluluhlantahkan tatanan kehidupan bermasyarakat yang berujung pada runtuhnya semangat moralitas kebangsaan.
Di sinilah para pemimpin bangsa dituntut menghidupkan semangat profetik di dalam diri mereka. Para pemimpin bangsa harus mampu mengedepankan rasa empati dan simpati kepada setiap masyarakat sebagai dasar dalam memperbaiki kondisi bangsa. Sejatinya, sifat-sifat tersebut akan mendorong kepada koreksi atas tindakan keliru yang berujung pada ketidakadilan dan terejahwantakan untuk membela kondisi masyarakat yang tertindas.

Jika dilihat dari kondisi pemerintahan saat ini, tampaknya semangat profetik belum muncul dari dalam diri seluruh pemimpin-pemimpin negeri ini, mereka terkesan lebih menyibukkan diri demi kepentingan pribadi daripada mengurusi kepentingan rakyat. Bahkan, keluh-kesah yang sering dilontarkan oleh rakyat sering dianggap sebagai nyanyian yang tidak berharga.

Akibatnya, kekuasaan (jabatan) yang diamanahkan oleh rakyat tidak mampu didedikasikan untuk mencurahkan pikiran demi kemajuan bangsa, tetapi lebih diarahkan pada kepentingan sesaat. Tidak berhenti sampai di situ, justru yang amat menyedihkan, hampir semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air, telah dibanjiri oleh praktik yang mencerminkan ketidakteladanan akibat kian keruhnya anomali kekuasaan.

Kasus-kasus korupsi yang belum terselesaikan sampai saat ini merupakan bukti jika para pemimpin negeri ini belum serius dalam mengatasi permasalahan kehidupan bangsa. Rakyat kecil yang tadinya berharap hadirnya wibawa kekuasaan harus rela menggigit jari akibat keserakahan para penguasa. Alih-alih mensejahterakan rakyat, pelayanan kepentingan mereka pun sering terabaikan.
Sebagai bangsa yang menganut demokrasi, seharusnya rakyat menjadi prioritas utama. Karena, demokrasi dibangun atas komitmen menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Demokrasi akan ”mati” ketika kondisi rakyat semakin terpinggirkan. Demokrasi hanya bisa ditegakkan manakala hak-hak asasi manusia dihormati dan dijunjung tinggi.

Dengan kata lain, demokrasi sangat menjunjung tinggi sikap transformatif demi tumbuhnya solidaritas kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Solidaritas itu akan tampak dalam tindakan konkret ketika seluruh elemen pemerintahan mampu memperbaiki penderitaan yang terus-menerus dialami oleh rakyat. Demokrasi dapat berjalan dengan baik apabila bangsa ini dinakodai oleh para pemimpim yang memiliki semangat propetik dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.

Bukan untaian kata-kata manis para pemimpin yang diperlukan oleh rakyat saat ini, tetapi tindakan konkret dalam membangun kesejahteraan rakyat yang lebih dibutuhkan. Setiap para pemimpin bangsa mesti bertanggung jawab membebaskan rakyat dari berbagai bentuk penjajahan disegala bidang. Di tengah kondisi bangsa yang tidak menentu, setidaknya para pemimpim yang memiliki semangat profetik merupakan idaman bagi setiap anak bangsa dalam membawa perubahan ke arah yang lebih baik (min al-zhulumâti ila al-nûr). Semoga!!
** Penulis adalah Dosen Binamadani Tangerang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *