Hamzah Fansuri: Sufi Dari Nusantara


Oleh: Achmad Beby Saeful

Tasawuf memiliki peran penting dalam proses islamisasi di nusantara. Bahkan bisa dikatakan penyebaran Islam di nusantara tidak dapat dilepaskan dari ajaran tersebut. Salah satu alasan terpenting ajaran tasawuf lebih mudah diterima dan menjadi bagian dalam kehidupan beragama di nusantara, disebabkan sikap para pembawanya (kaum sufi) yang kompromis dan penuh kasih sayang dalam menyebarkan ajarannya. Di sisi lain wajah tasawuf yang dibawa kaum sufi mampu menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat.

Kajian tentang tasawuf di nusantara tidak dapat dilepaskan dari bumi serambi makkah (Aceh). Wilayah tersebut merupakan sentral dalam transformasi Islam di nusantara. Pada mulanya kemunculan tasawuf di Aceh dibawa oleh ulama-ulama timur tengah yang melakukan perjalanan dagang dari India dan Persia. Ajaran tersebut dikemudian hari memberikan pengaruh signifikan bagi masyarakat setempat dan melahirkan ulama-ulama sufi. Salah satunya adalah Hamzah Fansuri.

 

Sekilas tentang Hamzah Fansuri

 

            Kelahiran Hamzah Fansuri tidak diketahui secara pasti. Namun menurut Muhammad Naquib al-Attas, Hamzah Fansuri dilahirkan di Fansur kira-kira pada abad ke-16 M. Selain dikenal sebagai kota perdagangan kapur barus, Fansur dikenal pula sebagai kota pendidikan. Nama kota kelahiran inilah yang dijadikan nama belakangnya sehingga menjadi Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri hidup di masa pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1588-1604) sampai awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Karir pendidikan Hamzah Fansuri dimulai di kota kelahirannya. Kemudian, dengan tujuan mendalami ajaran tasawuf Hamzah Fansuri mengembara ke berbagai belahan dunia. Ketika berada di Baghdad ia mengikuti, mendalami dan menerima baiat dari sufi tarikat Qodiriyah. Tarikat tersebut merupakan tarikat yang diambil dari nama syekh Abdul Qadir Jaelani sebagai pendirinya.

Setelah mengikuti ajaran tarikat Qodiriyah, Hamzah Fansuri memperoleh ijazah dari sufi tarikat tersebut untuk mengajarkan ajarannya. Di samping itu ia pun pernah diangkat menjadi mursyid dalam tarikat tersebut. Dengan demikian Hamzah Fansuri dapat dikatakan sebagai ulama nusantara pertama yang diketahui secara pasti mengikuti ajaran tarikat Qodiriyah.

Meskipun Hamzah Fansuri penganut tarikat Qodiriyah, namun ketika kembali ke tanah air ia mengembangkan ajaran tasawuf sendiri. Justru dalam mengembangkan ajaran tasawufnya, ia lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran wahdatul wujud Ibn Arabi. Selain dikenal sebagai ulama sufi, Hamzah Fansuri pun dikenal sebagai penyair sufistik. Bagi Naquib al-Attas, Hamzah Fansuri merupakan penyair terbesar pada abad ke-17 dan menjulukinya sebagai “Jaladuddin Rumi” dari Nusantara.

Semasa hidupnya Hamzah Fansuri kurang dikenal, ajarannya pun ditentang oleh banyak kalangan karena dianggap sesat. Dalam Hikayat Aceh keberadaan Hamzah Fansuri sebagai tokoh tasawuf dan sastra tidak disebutkan. Ia justru dikenal setelah wafat. Al-Attas menduga bahwa Hamzah Fansuri meninggal sebelum tahun 1607. Ia dimakamkan di Singkel, dekat kota kecil Rundeng di hulu sungai Singkel. Hingga saat ini makamnya banyak didatangi para peziarah.

 

Pemikiran dan Pengaruh Hamzah Fansuri

 

Pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri sangat dipengaruhi oleh gagasan wahdatul wujud Ibn Arabi. Dalam wahdatul wujud alam merupakan penampakan Tuhan, berarti hanya ada satu wujud yaitu wujud Tuhan. Sedang semua yang diciptakan Tuhan pada hakekatnya tidak memiliki wujud. Ajaran inilah yang kemudian dikembangkan oleh Hamzah Fansuri di nusantara dengan istilah wujudiyah.

Titik tekan ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri adalah sifat imanensi Tuhan pada makhluk-Nya daripada sifat transendensi-Nya. Setidaknya ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri terangkum dalam enam hal. Pertama, pada hakekatnya zat dan wujud Tuhan sama dengan zat dan wujud alam. Kedua, tajalli alam dari zat dan wujud Tuhan pada tataran awal adalah cahaya Muhammad yang pada hakekatnya adalah cahaya Tuhan. Ketiga, cahaya Muhammad adalah sumber segala ciptaan Tuhan. Keempat, manusia sebagai mikrokosmos harus berusaha mencapai kebersamaan dengan Tuhan dengan jalan menghilangkan keterikatannya dengan dunia dan meningkatkan kerinduan pada kematian. Kelima, usaha manusia tersebut harus dipimpin oleh guru yang berilmu sempurna. Keenam, manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dengan Tuhan adalah manusia yang telah mencapai ma’rifat yang sebenar-benarnya, yang telah berhasil mencapai taraf ketiadaan diri (fana’ fi Allah).

Ajaran-ajaran seperti itulah yang membuat dirinya dituduh telah menyimpang dan sesat dari Islam yang sebenarnya. Di sisi lain, ajaran yang dibawanya pun dianggap bid’ah. Tokoh yang menjadi penantang utama ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri adalah Naruddin ar-Raniri. Bagi ar-Raniri, ajaran wujudiyah membawa kepada pemahaman alam dan Tuhan adalah sama. Walaupun demikian, ajaran tersebut berpengaruh luar biasa bagi masyarakat setempat dan memiliki banyak pengikut.

Sejatinya, ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri ingin menegaskan bahwa segala sesuatu berpusat pada Tuhan. Dengan ungkapan lain, setiap ciptaan Tuhan dapat memiliki kepribadian dan sampai pada Tuhan dengan berupaya menumbuhkan sifat-sifat ketuhanan di dalam dirinya. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu diselaraskan antara kemauan, pikiran dan perbuatan dengan kemauan Tuhan, sehingga segala gerak manusia adalah gerak Tuhan juga.

Selain berpengaruh dibidang tasawuf, Hamzah Fansuri pun memiliki pengaruh dibidang kesusastraan melayu. Bisa dikatakan ia adalah orang pertama yang membuat syair-syair sufistik berbahasa melayu di nusantara. Usahanya dalam membuat syair-syair berbahasa melayu berhasil mengangkat derajat bahasa tersebut. Dari sekedar lingua franca (bahasa pergaulan) menjadi bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan modern. Karena itu, tidak mengherankan jika sekitar abad ke-17, bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di berbagai lembaga pendidikan Islam, bahkan digunakan pula oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bahasa administrasi dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah mereka. 

Dari sini Hamzah Fansuri menjadikan bahasa melayu menjadi bahasa penting dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan persuratan. Keberadaannya mengungguli bahasa-bahasa lain di nusantara, termasuk bahasa jawa yang sebelumnya telah jauh berkembang.

Di sisi lain, Hamzah Fansuri telah berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika Melayu. Pengaruh itu masih dapat diamati jauh setelah ia tiada dan hingga saat ini, seperti dalam karya penyair pujangga baru dan sastrawan angkatan 70-an, berada dalam satu jalur estetik dengan Hamzah Fansuri. Di samping itu, syair-syair yang dibuat Hamzah Fansuri dengan bahasa melayu menunjukan betapa besar jasanya dalam proses islamisasi bahasa melayu. Islamisasi bahasa sama halnya seperti islamisasi pemikiran dan kebudayaan.

Kiprah Hamzah Fansuri dalam menyebarkan ajarannya menjadikan dirinya cukup berpengaruh di nusantara. Salah satu yang membuat dirinya berjasa adalah keberaniannya dalam menulis karya-karya dan syair-syair sufistiknya dalam bahasa melayu. Ketika banyak umat Islam mempelajari imu-ilmu agama dengan merujuk kepada karya-karya berbahasa Arab, karya-karya Hamzah Fansuri yang berbahasa melayu ibarat angin segar bagi umat Islam nusantara dalam memperkaya khazanahnya dibidang agama. Meskipun ajaran yang dibawanya dianggap sesat oleh sebagian kalangan, namun pengaruhnya dalam dunia pemikiran Islam dan kesusastraan sufi tidak bisa dinafikan.

 

** Tulisan ini telah dimuat dalam buku 101 Alasan Mencintai Nusantara diterbitkan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, 2015.

*** Penulis adalah Dosen STAI Binamadani, Tangerang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *