Gus Dur Dalam Bingkai Dunia


GUS DUR DALAM BINGKAI DUNIA

Oleh: Achmad Saeful, MA

 

Setiap manusia pasti memiliki penilaian kepada manusia lainnya. Biasanya hal itu muncul dari pikiran dan sikap yang diaktualisasikannya. Jika manusia memiliki sikap dan pikiran biasa saja, maka akan lahir penilaian yang sama. Tetapi, apabila manusia memiliki sikap dan pikiran luar biasa, maka penilaian yang lahir pun terhadapnya menjadi luar biasa.

Adalah Gus Dur salah satu tokoh di tanah air yang memiliki sikap dan pikiran luar biasa. Salah satu pikiran dan sikap Gus Dur yang luar biasa ialah ketika dirinya menjadi yang terdepan dalam membela kelompok minoritas. Aktualisasi ini diterapkan kepada kelompok minoritas tionghoa dengan memberikan keleluasaan untuk memperoleh hak-haknya, termasuk hak dalam mengaktualisasikan ajarannya.

Meskipun banyak yang tidak setuju dengan upaya yang dilakukan Gus Dur, namun ia tetap pada pendiriannya. Implikasinya, hingga saat ini keyakinan Konghucu yang merupakan kepercayaan dan adat istiadat tionghoa diakui di Indonesia.

 

Sekilas Tentang Gus Dur

Menurut penelusuran Greg Barton Gus Dur dilahirkan pada 7 September 1940, di Denanyar, dekat kota Jombang, Jawa Timur di pesantren kakek dari pihak ibunya, KH. Bisri Syansuri. Gus Dur lahir dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Hj. Sholehah. Ketika terlahir ia diberi nama Abdurrahman al-dakhil, sebelum akhirnya diganti menjadi Abdurrahman wahid.

Masa kecil Gus Dur banyak dihabiskan di dunia pesantren. Di lingkungan inilah Gus Dur menempa ilmu dari KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan kakeknya. Pada tahun 1944 Gus Dur pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia.

Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan menatap di sana selama perang kemerdekaan melawan Belanda. Pada 1949 Gus Dur kembali ke Jakarta untuk ikut ayahnya yang ditunjuk sebagai Menteri Agama. Di Jakarta Gus Dur belajar di SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Sejak SD ayahnya telah membiasakan Gus Dur membaca buku-buku non-muslim, majalah dan koran untuk memperluas pengetahuannya.

Pada 1953 Gus Dur menyelesaikan sekolah dasar dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Tahun 1954, Gus Dur dikirim ibunya ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Tamat SMP Gus Dur menjadi santri di Pesantren Tegalrejo dan belajar pada KH. Chudhari. Pada tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Kota Jombang.

       Tahun 1963 Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan di  Universitas Al-Azhar di Mesir. Namun pendidikannya di negara tersebut, tidak berjalan semestinya. Akhirnya, ia pindah ke Universitas Bagdad, di Irak dan selesai tahun 1970. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden, namun kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.

            Dalam perjalanan karirnya, pada tahun 1999 Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia keempat. Kiprah selama memimpin bangsa ini, memberikan angin segar bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya bersikap demokratis dalam menempuh kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada tahun 2009 disebabkan sakit yang dideritanya, Gus Dur akhirnya kembali kepangkuan Ilahi.

 

Pengaruh Gus Dur terhadap Dunia

            Upaya Gus Dur untuk memberikan pengaruh terhadap dunia, dapat ditelusuri dari pemikirannya dalam bingkai kebangsaan dan keagamaan. Pada ranah  kebangsaan Gus Dur merupakan tokoh yang berperan besar dalam menegakkan demokrasi. Sikap demokratis Gus Dur dapat diamati dari keberanian dirinya dalam membela hak-hak kelompok-kelompok minoritas di negeri ini.

             Demokrasi mensyaratkan persamaan hak, menghargai pluralitas, tegaknya hukum dan keadilan serta kebebasan menyampaikan aspirasi. Konsep ini tidak sekedar disosialisasikan Gus Dur dalam berbagai bentuk forum seminar dan diskusi. Lebih dari itu, dia berusaha mempraktekkan hal ini dalam kehidupan. Meski dampaknya dicap sebagai orang yang membela minoritas dan mengabaikan mayoritas. Bahkan, tidak jarang sikap ini melahirkan kecemburuan dari sebagian kelompok mayoritas.  

Padahal, ini dilakukan untuk memberikan pelajaran bagi kelompok mayoritas untuk menghargai hak-hak kelompok minoritas, sekaligus menciptakan rasa aman bagi kelompok tersebut. Sebab dalam demokrasi, semua kelompok berhak hidup secara aman dan nyaman tanpa ada tekanan dan intimidasi dari kelompok lainnya.

Dalam konteks keagamaan Gus Dur dikenal sebagai pejuang pluralisme. Pluralisme mengandung pesan sosial yang amat tinggi dari ajaran agama. Pesan itu terdapat dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam setiap agama, seperti kasih sayang, persaudaraan, cinta kasih, tolong menolong dan sebagainya. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan untuk merusak alam, merusak persaudaraan, dan mengembangkan konflik. Koridor kemanusiaan inilah yang diaktualisasikan Gus Dur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui pluralisme, sejatinya Gus Dur ingin mengajak kepada setiap umat beragama untuk saling menghormati dan saling menghargai terhadap sesama. Sehingga tidak muncul konflik atas nama agama. Dengan demikian, kerjasama antarumat beragama dalam membangun bangsa ke arah yang lebih baik dapat tercapai.

Kiprah Gus Dur dalam membangun bangsa yang bernuansa demokratis dan pluralis melahirkan kekaguman para tokoh dunia kepadanya. Bahkan, Presiden AS Barack Obama berani mengatakan, bahwa Gus Dur merupakan tokoh penting dalam transisi demokrasi di Indonesia. Dia akan selalu dikenang atas komitmennya terhadap prinsip demokrasi, politik inklusif dan toleransi beragama.

Sementara itu, Tun Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia ke-6 mengatakan, pengaruh kuat Gus Dur dalam menentukan Indonesia tidak dapat dianggap remeh. Gus Dur merupakan negerawan dan ilmuwan. Dia berjuang untuk membawa perubahan dan reformasi yang didasari nilai-nilai Islam. Kevin Rudd, PM Australia ke-6, menegaskan, “Gus Dur adalah tokoh utama dalam sejumlah agenda reformasi penting yang dilaksanakan Indonesia menuju sebuah demokrasi yang modern”. Menurut Perdana Menteri Singapura ke-3, Lee Hsien Loong, Gus Dur akan selalu diingat sebagai tokoh Islam moderat dan pembela kaum minoritas.

Pandangan para tokoh dunia kepada Gus Dur, menunjukkan mereka memiliki simpati yang luar biasa terhadap perjuangannya di tanah air. Di samping itu, kondisi ini semakin menegaskan bahwa Gus Dur merupakan tokoh nasional yang memiliki pengaruh terhadap dunia. Karena itu, ketika masih terdapat dalam sebuah negara di dunia ini yang bersifat tirani dan mengesampingkan hak-hak minoritas, maka para pemimpinnya perlu belajar dari Gus Dur.

 

Tulisan ini telah dimuat dalam buku 101 Alasan Mencintai Nusantara diterbitkan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, 2015.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *