ETOS KERJA NABI MUHAMMAD SAW


Oleh:  DR. H.M. SUAIDI,M.Ag.

 

Suatu saat Rasulullah berjumpa dengan sohabat saat bin Mu’adz Al-Anshory,Rasulullah melihat tangan sa’at melepuh, kulitnya berwarna kehitam hitaman seperti terbakar matahari, lantas Rasulullah bertanya “ Kenapa tanganmu  wahai shohabatku Saat ? “. Sa’at manjawab “ ya Baginda Rasul,tanganku seperti ini karena saya becoco tanam dengan cangkul,demi menafkahi keluarga ya rasul. Dengan reflek tangan Rasulullah SAW. Memegang tangan Shohabat saat dan menciumnya,sambil berkata “inilah tangan yang tidak pernah disentuh api neraka”. Dalam riwayat lain rasulullah bersabda “inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul Nya”.

Kisah tersebut menggambarkan kepada kita sebagai hamba allah dan Umat rasulullah, begitu besar apresiasi yang allah berikan kepada hambanya yang tekun rajin dan bekerja keras.untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya.bahkann rasulullah SAW,rela mencium tangan shohabat Sa’at yang melepuh dan berwarna kehitam hitaman.

Ini menunjukan Rasulullah selalu memberi motifasi kepada umatnya agar selalu berusaha apapun profesi kita yang terpenting tidak bertentangan dengan norma agama , yaitu agama Islam.

Rasulullah SAW. Sosok yang memiliki etos kerja yang tinggi karena beliau adalah sosok uswatun hasanah bagi umatnya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya  ; Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(al Ahzab; 21)

 

Demikianlah Rasul memberikan dorongan kepada kita untuk selalu bekerja, melakukan apa saja yang bermanfaat asalkan tidak bertentangan dengan aturan-aturan Syar’i. maka sudah barang tentu Rasulullah SAW adalah sosok yang memiliki etos kerja yang tinggi karena beliau adalah sosok Uswatun Hasanah bagi Ummatnya. Oleh karena itu ketika berbicara masalah etos kerja, semangat, dan kesungguhan, beliau tentunya adalah orang yang pertama kali berbuat. Banyak hal yang bisa kita temui dalam kehidupan Rasul bahwa beliau adalah orang yang memiliki semangat dalam bekerja. Beliau tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Bukankah dulu sewaktu masih berusia kanak-kanak dan remaja beliau sudah menjadi seorang enterpreuner yang sukses. Semua itu adalah atas hasil kejujuran dan keuletan beliau, atas kualitas kerja beliau. Dalam usia yang masih sangat muda, beliau sudah ikut serta dengan pamannya Abu Thalib menempuh perjalanan dagang menuju Syam yang jaraknya ribuan kilometer. Di usia remajanya beliau tidak terlena dengan kelalaian, permainan dan hura-hura sebagaimana rekan-rekan seusia beliau. Justru belia telah disibukkan dengan kesibukan yang bermanfaat, keuletan dan kesungguhan dalam mencari nafkah kehidupan beliau.

Siapa yang tidak kenal denga Khadijah ra, seorang janda kaya, pengusaha sekaligus konglomerat yang sukses ketika itu… bahkan beliau mempercayai dagangannya yang sekian banyak itu dikelola oleh seorang pemuda bernama Muhammad SAW. Itu adalah karena kejujuran dan keuletan beliau SAW. Hingga Khadijah tertarik pada pribadi beliau. Ini adalah berkah keuletan. Bahkan ketika menikah dengan Khadijah, maharnya tidak tanggung-tanggung. 20 ekor unta muda, atau sekitar setengah miliyar lebih… Siapa di antara kita sekarang ini yang mampu menikah dengan mahar sebanyak itu? Bahkan pengusaha sekalipun.
Ini adalah bukti bahwa Islam mengajarkan kita tentang ulet, dan tidak menghendaki umatnya untuk miskin. Bahkan untuk bisa menjalankan syari’at ini kita dituntut memiliki harta yang cukup. Seperti sholat, zakat, haji, dan yang lainnya, semua ada kaitannya dengan kesanggupan ekonomi kita. Lalu apakah alasan kita untuk duduk, bermalas-malasan, bersantai-santai, sibuk dengan permainan dan hiburan yang tidak bermanfaat. Bayangkan sekian waktu yang diberikan Allah telah kita gunakan untuk melalukan berbagai kelalaian. Bukankah semua itu akan dipertanggungjawabkan?

Saat ini kita berbicara tentang etos kerja, semangat dan kesungguhan. Bukan masalah mencari dunia dan sibuk dengan harta dan harta. Tapi masalah kasungguhan dan kualitas kerja. Kalau pertanggungjawaban kita terhadap apa yang kita usahakan , harta , dan lain lain… itu sudah jelas dan tergantung bagaimana kita mendapatkan nafkah itu, dan bagaimana kita mengelolanya serta keimanan kita nafkahkan hasil yang kita dapatkan itu.

Sekarang apakah kita hanya akan mengisi hidup ini dengan bermalas-malasan, dan tidak pernah memperhatikan kualitas kerja dan kehidupan kita. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kamum melainkan ia sendiri yang akan merubahnya?…
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali ia sendiri yang akan merubah apa yang ada pada dirinya…

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

(Ar-Ra’du:11)
 
Bukankah Allah akan memberikan hasil sesuai apa yang kita usahakan?

Saudaraku, etos… Itulah yang mesti kita perhatikan setiap apa yang kita lakukan. Dan kita mesti lakukan apa saja yang bisa mendatangkan manfaat dan mendapatkan Ridho Allah. Ingat… Rasulullah SAW telah mendo’akan orang yang tangannya melepuh dan terbakar
Allahu a’lam bish-showab

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *