Efektifitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dengan Strategi


   EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN STRATEGI

MULTIPLE INTELLEGENCES

Oleh : H. Ferdinal Lafendry, S.Ag.,MM

 

Abstract :

Pada tulisan ini ingin menunjukan bahwa guru dituntut untuk kreatif dalam mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya, berbagai strategi multiple intelligences bisa diterapkan untuk pelajaran Agama Islam yang kreatif sehingga proses pembelajaran akan hidup dan siswa tidak sulit memahami pelajaran dan tidak bosan pada saat proses pembelajaran karena gurunya mampu mengembangkan kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya.

Dalam penerapan strategi multiple intelligences di sekolah, ada beberapa hal yang dilakukan yaitu : memberdayakan semua jenis kecerdasan yang ada pada setiap mata pelajaran dan mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa.

 

Proses pembelajaran dilakukan dengan berbagai macam strategi yang kreatif  dengan pendekatan multiple Intelligences. Berbagai macam strategi diantaranya adalah : Action research, klasifikasi, identifikasi, mindmap, analogi dan  yang lainnya.

 

Keyword:, Multiple Intelligence, Pendidikan Agama Islam, Strategi Mengajar

 

  1. PENDAHULUAN

Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks. Permasalahan utama terletak pada kualitas Sumber daya manusia atau kualitas guru dalam berbagai level pendidikan, maka dengan menggunakan strategi MI dapat mengembangkan kreatifitas guru dalam mengajar sehingga pembelajaran agama Islam  yang diberikan akan terekam dalam memory jangka panjang siswa.

Tulisan ini diawali dari kegelisahan penulis melihat banyaknya proses pembelajaran PAI  di sekolah –sekolah masih belum menarik minat siswa untuk belajar, maka penulis menginginkan agar proses kegiatan belajar mengajar  dalam pembelajaran PAI  didesign semenarik mungkin mulai dari pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran, Strategi –strategi yang bervariasi serta penilaian yang berbasis proses (authentic assessment), dengan harapan agar proses kegiatan belajar mengajar  menjadi hidup suasananya ,dan siswa bergairah untuk mengikuti proses  kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan diberbagai sekolah.

Tulisan   ini ingin merumuskan tentang strategi pembelajaran PAI yang menyenangkan dengan menggunakan Strategi Multiple Intelligences. Tulisan  ini memberikan informasi tentang banyak strategi pembelajaran dari banyak gaya belajar siswa. Proses kegiatas belajar mengajar  Agama Islam dengan cara yang menyenangkan bukanlah hal yang mudah, namun bisa dibuat model-model  pembelajaran yang menarik yaitu dengan menggunakan   Strategi Multiple Intelligences yang digagas oleh Howard Gardner, yang saat ini berkembang ke hampir seluruh lembaga-lembaga pendidikan dunia.

Dalam hal ini guru mampu mengoleksi strategi mengajar dari multiple intelligences yang selalu berkembang, contoh mengajarkan zakat dengan menggunakan strategi action reseach, dengan menggunakan strategi ini maka tidak ada pelajaran yang sulit dan membosankan semuanya mudah, kondisi ini dapat terjadi jika guru menguasai strategi mengajar dengan multiple Intelligences

 

  1. PEMBAHASAN

Sudah banyak teori tentang multiple intelligence, namun belum ada yang menulis secra spesifik tentang strategi pembelajaran PAI dengan strategi multiple intelligences.  Ada riset yang menggunakan strategi multiple intelligences tapi masih global belum secara khusus dalam pembelajaran Agama Islam. Munif Chatib dalam buku Gurunya Manusia menjelaskan tentang berbagai strategi mengajar dengan menggunakan multiple intelligences namun masih global belum spesifik dalam pelajaran PAI. Penulis mencoba membuat strategi multiple intelligence dalam pelajaran  PAI.

  1. Pendidikan Agama Islam
  2. Pengertian

Defenisi  tentang Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan atar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Pengertian Pendidikan Agama Islam :

  1. Pendidikan Agama Islam ialah usaha dan berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.
  2. Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan berdasar ajaran Islam
  3. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah seleai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakini secara menyelurruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.[1]

 

 

  1. Tujuan

Tujuan Pendidikan Agama Islam menurut Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut : untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan yang diwujudkan dalam akhlak yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengalaman peserta didik tentang aqidah dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meniningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklah mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.[2]

  1. Kompetensi dan Peran Guru

Sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimilikim olah seorang guru, yaitu meliputi kompetensi pribadi, kompetensi professional, kompetensi social kemasyarakatan.

  1. Kompetensi pribadi ;

Guru sering dianggap sebagai sosok yangmemilii kepribadian yang ideal. Oleh karena itu pribadi guru sering diangap sebagai model atau panutan. Sebagai seorang model guru haruis memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembanagan kepribadian diantaranya :

  • Kemampuan yang berhubungan dengan pengalamalan ajarana agaamanaa sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya
  • Kemampuan untuk menghormati dabn menghargai antar umat beragama.
  • Kemampuan untuk berprilaku sesuai norma, aturan dan system nilai yang berlaku dimasyarakat

 

  1. Kepribadian Profesional

Kompetensi professional adalah : kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penjeyelesai tugas-tugas keguruan. Beberapa kemampuan yang berhubungan dengan kompetensi ini diantaranya adalah :

  • Kemampuan untuk menguasai landasan pendidikan
  • Pemahaman dalam bidsang psikologi pendidikan
  • Kemampuan dalam pengusaan materi pemeblajaran
  • Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran
  • Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar
  • Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran
  • Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran

 

  1. Kompetensi soasial kemasyarakatan

Kompetensi ini berhubungan dengan kemampauan guruy sebagai anggita masyarakat dan sebagai makhluuk social meliputi :

  • Kemampuan beriteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemempuan professional
  • Kemempuan unuk mengrnemwlsl, dabn memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan
  • Kemampuan untuk menjalin kerjasama baik secara in dividual maupun secra kelompok.[3]
  1. Beberapa peran guru akan dijelaskan di bawah ini :
  • Guru sebagai sumber belajar, peran guru sebgai sumber belajar, merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan sumber belajar
  • Guru sebagai fasilitator, sebagai fasilitator berperdengan  dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
  • Guru sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untujk terjadinya proses belajar seluruh siswa
  • Guru sebagai demonstrator, adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa mengeri dan memahami setiap pesan yang disampaikan.
  • Guru sebgai pembimbing, membimbing siswa agar dapat menemukan potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka.
  • Guru sebagai motivator, guru harus mampu memotivasi siswa agar siswa berprestasi dan memperoleh hasil belajar yang optimal
  • Guru sebagai sebagai evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data ataun informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.[4]
  1. Pendekatan, Strategi , Metode dan Teknik Belajar

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagain titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran : teacher centered approad, yaitu pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat kepada guru dan student approach dan student centered approach, yakni pendekatan yang berorientasi atau  berpusat kepada siswa. Teacher centered approach menghasilkan pdoduk siswa-siswa yang tau apa sedangkan student centered approach menghasilkan produk siswa yang “tau apa” dan bisa apa”. Kemampuan siswa terasa pada pendekatan ini. Bila diibaratkan mata uang logam siswa akan mendapatkan dua sisi mata uang tersebut yaitu “tahu apa” dan “bisa apa”.[5] Proses pembelajaran diupayakan dengan pendekatan student centered approach ini  siswa yang banyak beraktivitas dalam kegiatan belajar mengajar.

Strategi pembelajaran adalah upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar.[6]Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencaopai tujuan tertentu. Ada dua hal yang kita cermati dari pengertian di atas. Pertama strategi pembelajaran merupakan rancangan tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk rancangan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini bererti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada rencana kegiatan. Kedua strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan fasilitas dan sumber semua diarahkan dalam upaya mencapai tujuan. Oleh sebab itu sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas, yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi. Tidak semua tujuan dapat dicapai dengan satu strategi.  Upaya mengimplemantasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun secara optimal, ini yang dinamakan dengan metode, ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah disusun maka menggunakan beberapa metode seperti : metode  simulasi, ceramah, diskusi, Tanya jawab, demonstrasi, simulasi dan klasisifikasi.

Apabila  strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu strategi. Dengan kata lain strategi. Strategi a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah away in achieving something[7]

Metode pembelajaran dijabarkan dalam bentuk teknik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan sseseorang dalam mengimplementasikan suatu metode pembelajaran secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode diskusi perlu digunakan teknik yang berbeda antara kelas dengan siswa tergolong aktif di kelas dengan siswa yang tergolong pasif. Dalam hal inipun guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Strategi pembelajaran MI pada prakteknya adalah memacu kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya mempertahankan kecerdasan yang lainya pada standar minimal yang ditentukan oleh lembaga atau sekolah. Dengan demikian penggunaan strategi MI tetap pada posisi yang selalu menguntungkan bagi siswa yang menggunakannya. Satu hal yang pasti siswa akan keluar sebagai individu yang memiliki jati diri, yang potensial pada salah satu atau lebih dari delapan kecerdasan yang dimilikinya. [8]

Ada dua tahapan dalam  penerapan strategi multiple Intelligences agar mendapatkan hasil yang optimal yaitu : Memberdayakan semua jenis kecerdasan yang ada peda setiap mata pelajaran dan mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan menonjol pada masing-masing siswa.

 

  1. Memberdayakan semua jenis kecerdasan pada setiap pelajaran.

Sebagai contoh pelajaran berwudhu dengan strategi puisi. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, siswa diminta menyusun gambar-gambar gerakan wudhu dan bacaannya sesuai dengan urutan gerakan wudhu, jika sudah urut  siswa bisa mempraktekan bacaan urutan wudhu  dengan  puisi diluar kelas, dihalaman sekolah atau ditaman kemudian siswa diajak ketempat berwudhu untuk melakukan praktek berwudhu, maka kecerdasan yang dikembangkan adalah : interpersonal, spasial visual, linguistik, kinestetik dan naturalis .  Dengan cara seperti ini maka kecerdasan yang dikembangkan lebih banyak ketimbang ketika siswa hanya menghafal bacaan urutan wudhu hanya di depan kelas.

  1. Mengoptimalkan pencapaian yang menonjol pada masing-masing siswa.

Bagi mereka yang memiliki kecerdasan spasial visual maka guru mengajarkan materi pelajaran dengan strategi gambar visual misalnya pelajaran puasa, guru mendefenisikan tentang arti puasa kemudian siswa menggambarkan defenisi yang dibacakan oleh guru. Atau materi pelajaran tentang puasa dibuat dengan menggunakan strategi mind mapping.  Tahap kedua ini dapat dilakukan ketika guru sudah mengidentifikasi kecerdasan yan dimiliki oleh siswanya baik itu melalui kebiasaan sehari-hari siswa maupun dengan multiple intelligence riset (MIR).  Dalam diri siswa terdapat satu atau lebih kecerdasan yang dominan yang harus  dioptimalkan perkembangannya oleh guru.

Dalam tulisan  ini digunakan istilah strategi pembelajaran sebab strategi pembelajaran yang dimaksud sangatlah luas mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian tiap  metode pembelajaran. Memang metode pembelajaran termasuk bagian dari strategi pembelajaran, namun istilah metode pembelajaran tidak sampai pada ranah penilaian, maka dalam hal ini menggunakan istilah strategi pembelajaran.

Istilah-istilah applied learning, collaboration learning, service learning  dan environment learning dimasukan kedalam strategi multiple intelligence menurut Munif Chatib beliau ingin meniru Gardner yang menggunakan istilah” multiple” dalam mendefinisikan teori kecerdasan dan perkembangan teori kecerdasan itu terus up to date sampai saat ini. Bayangkan, ketika menemukan teori tersebut pada tahun 1983, Gardner hanya mengenalkan enam kecerdasan, yaitu : linguistic, matematis logis, spasial visual, music, intrapersonal, dan interpersonal. Namun, dalam perkembangannya sampai 2002, Gardner sudah mengenalkan Sembilan kecerdasan dengan penambahan kecerdasan kinestetis,naturalis, dan eksistensial. Bandingkan dengan Daniel Goldmen yang sukses mengenalkan kecerdasabn emosi (emotional quotient) pada 1995. Teori kecerdasan ini mengalami kemandegan istilah dan tidak berkembang sebab redaksionalnnya sudah baku yaitu emotional. Hal ini juga dialami oleh Paul Scholtz pada 1995. Sampai hari ini belum muncul perkembangan baru dari kedua teori tersebuit. Sementara itu redaksional multiple intelligences dari Gardner sangat mungkin untuk memunculkan jenis-jenis kecerdasan baru. Demikian juga halnya dalam strategi mengajar, Pak Munif ingin menekankan bahwa strategi mengajar itu dekat dengan kreativitas guru sehingga jumlah dan nama strategi itu harus luas dan tak terbatas, jadi apapun namanya strategi multiple intelligences akan menjadi wadah yang sangat luas dan dapt menampung semua istilah metodologi pembelajaran. Apalagi ketika kita lebih mendalami sttrategi ternyata setiap strategi tersebut punya multiple intelligences approach (MIA) yang sangat bermanfaat untuk pemilihan strategi mengajar.  Dalam hal ini penulis menggunakan strategi mengajar agar dapat berkembang dan sekarang penulis memiliki puluhan strategi pengajaran, dan strategi pengajaran ini terus berkembang dan guru dapat menambahkan dengan membuat strategi yang lainnya.

  1. Diskursus Kecerdasan

Kecerdasan tidak terbatas hanya terkait dengan intelektual semata, kecerdasan dapat terkait dengan banyak hal. betapa pentingnya peranan kecerdasan  dalam  bidang kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.[9]

Multiple Intelligences lahir sebagai koreksi terhahadap kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfred Binet (1904) yang meletakan dasar kecerdasan seseorang pada Intelligences quotient (IQ). Verdasarkan tes IQ yang ditemukannya, Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam rentang skala tertentu yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa dan logika semata. Tes yang dikembangkan oleh Binet, menerut Gardner (1983) belum mengukur kecerdasan seseorang sepenuhnya, sebab tes IQ Binet baru mewakili sebagaian kecerdasan yang ada yaitu kecerdasan linguistik, mathematic logis danspasial saja, padahal masih banyak kecerdasan yang lain yaitu kinestetik, interpersonal, intrapersonal, musical, dan kecerdasan naturalis.[10]

Mengapa Gardner dengan multiple intelligence-nya menyita perhatian masyarakat ? Setidaknya ada tiga paradigma mendasar yang diubah Gardner

  1. Kecerdasan tidak dibatasi tes formal

Kecerdasan seseorang  tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator tes formal. Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu sealalu berkembang (dinamis) tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu . menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat  dari kebiasaan seseorang dan kebiasaan itu adalah prilaku yang diulang-ulang. Gardner menulis tentang konsep multiple intelligence dalam bukunya frame of Mind.  Buku ini dipublikasikan dengan tujuan memberikan kritik yang mendalam tentang ketidak validan tes IQ. Buku ini berhasil memberikan kekuatan dan inspirasi bagi psikolog-psikolog dunia untuk intropeksi diri dan kembali merenungkan tentang makna kecerdasan.[11]

  1. Kecerdasan itu multi dimensi

Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Gardner dengan cerdas memberi label “ Multiple” sehingga memungkinkan ranah kecerdasan tersebut berkembang mulai dari 6 kecerdasan dan sekarang menjadi 9 kecerdasan.

  1. Kecerdasan, Proses Discovering ability

Multiple intelligences punya metode discovering ability, artinya proses menemukan kemempuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap orang memiliki kecendrungan kecerdasan tertentu. Kecendrungan tersebut harus dicari melalui pencarian kecerdasan.

Jika yang ditemukan adalah kelemahan dalam satu jenis kecerdasan maka  kelemahan tersebut harus disimpan  dan  dikunci rapat-rapat. Multiple intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan atau kelebihan seseorang anak dan mengubur ketidak mampuan atau kelemahan anak. Proses menemukan inilah yang menjadi sumber kecerdasan seorang anak.

Thomas Amstrong menjelaskan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru  serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang.[12]

Daniel Goleman pendiri Collaborative for social and emotional learning di yale University Child study center. Pada pertengahan tahun 1990-an memperkenalkan EQ menurut Goleman EQ sama pentingnya dengan IQ menurutnya kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanyan 80% ditentukan oleh serumpun faktor lainnya termasuk kecerdasan emosional.  EQ dapat menjadikan seseorang tinggi akan kesadaran dan perasaan terhadap diri sendiri dan orang lain. EQ merupakan prasyarat dasar untuk menggunakan IQ secara efektif[13]

 

Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence mencoba membongkar  paradigma IQ tersebut, ia menegaskan bahwa IQ berbagai kelemahan karena hanya mengukur karena hanya mampu mengukur  kecerdasan bahasa dan logis matematis saja. Dalam bukunya Frame of minds tahun 1993 Gardner mengemukakan konsep kecerdasan  sebagai multi faktor yang terdiri dari  tujuh dimensi  yang saling terpisah, bukan semata konstruksi unit tunggal, ketujuh kecerdasan itu menurut Gardner adalah :  kecerdasan bahasa, logis matematik, visual, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal kemudian dalam bukunya berjudul Reformed Gardner menambahkan kecerdasan naturalis[14].

 

Multiple intelligencemerupakan teori yang di gagas oleh Dr. Howard Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University. Gardner mendefenisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang bernilai budaya.[15]

 

Gardner memetakan lingkup kemampuan manusia yang luas menjadi delapan kategori sebagai berikut :

 

  1. Cerdas Bahasa
  • Komponen inti: kepekaan pada bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa.
  • Berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, berdebat.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi seorang penulis, wartawan, orator, ahli politik, penyiar radio, presenter, guru, pengacara, maeketing

 

  1. Cerdas Logika dan Angka
  • Komponen inti: kepekaan pada memahami pola-pola logis atau numeris, dan kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang.
  • Berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berfikir logis, memecahkan masalah.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi ilmuwan, ahli matematika, ahli fisika, pengacara, psikiater, psikolog, akuntan, programmer

 

  1. Cerdas Gambar
  • Komponen inti: kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat.
  • Berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendisain.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi seniman, arsitek, ahli strategi, pecatur, desainer, sutradara, fotografer, montir professional
  • Kondisi akhir terbaik menjadi seniman, arsitek, ahli strategi, pecatur, desainer, sutradara, fotografer, montir professional
  1. Cerdas Musik
  • Komponen inti: kepekaan dan kemampuan menciptakan dan mengapresiasikan irama, pola titi nada dan warna nada serta apresiasi bentuk-bentuk ekspresi emosi musikal.
  • Berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, membentuk irama, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi komposer, penyanyi, pencipta lagu, pemain musik.
  1. Cerdas Gerak
  • Komponen inti: kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengola objek, respon, dan reflek.
  • Berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi olahragawan, penari, pematung, aktor, dokter bedah.
  1. Cerdas Bergaul
  • Komponen inti: kepekaan mencerna dan merespon secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain.
  • Berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan sosial yang tinggi, negosiasi, bekerja sama, mempunyai empati yang tinggi.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi konselor, politikus, pemimpin, motivator
  1. Cerdas Diri
  • Komponen inti: memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
  • Berkaitan dengan kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam, kemampuan intuitif dan motivasi diri, penyendiri, sensitif terhadap nilai diri dan tujuan hidup.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi psikoterapis, pemimpin agama, penasehat, filosof.
  1. Cerdas Alam
  • Komponen inti: keahlian membedakan anggota-anggota spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun nonformal.
  • Berkaitan dengan kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi, identifikasi.
  • Kondisi akhir terbaik: peneliti alam, ahli biologi, dokter hewan, aktivis peduli binatang dan lingkungan.

 

Dalam  Al Qur`an sudah terlebih dahulu dijelaskan jauh sebelum ilmuan barat menemukan penemuan tentang Multiple, bahkan dalam konsep Islam  setiap manusia yang terlahir kedunia ini  telah dibekali seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecendrungan untuk berkembang bahkan dalam dunia psikologi  disebut potensi lain, menurut psikologi behaviorisme disebut prepotence reflexes, yang  di dalam islam kemampuan dasar tersebut dikenal dengan fitrah[16], ini kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir. Aspek-aspek fitrah tersebut merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar[17]

  1. Implementasi Pembelajaran PAI dengan Multiple Intelligence

Dengan prinsip bahwa tidak ada siswa yang bodoh, setiap siswa adalah cerdas,maka guru harus mampu menemukan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswanya (discovering ability dan the righman and the righ place, maka guru mampu mengembangkan kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya. Maka guru harus mampu melist kecerdasan setiap siswa meskipun itu sekecil debu. Disinilah letaknya guru agar mampu memilih starategi yang tepat dalam proses pengajarannya.  Aktivitas menjelah ini ini bukan hanya sekedar proses mencari untuk menemukan, sehingga jika tidak menemukan yang dicari, maka aktivitas dihentikan. Akan tetapi, aktiviitas menjelajah harus didasari oleh tekad dan komitmen yang kuat pasti akan menemukan. Jika dalam menemukan, teruslah mencari sampai akhirnya menemukan kemampuan anak tersebut. Gurunya manusia harus menjadi katalisator, yaitu pemantik kemampuan siswanya.[18]

Bagaimana Proses pembelajaran yang terdiri dari pembuatan Lesson Plan, Strategi pembelajaran dan penilaian yang dilaksanakan oleh sekolah

Pembelajaran dalam kontek standar proses pendidikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pembelajaran, akan tetapi juga  sebagai proses   mengatur  lingkungan supaya siswa belajar, dalamproses belajar mengajar siswa  harus dijadikan sebai pusat pembelajaran.[19]

Proses pembelajaran menitik beratkan kepada student centered buka teacher centered, siswa yang lebih banyak aktif melakukan aktivitas guru hanya sebagai fasilitator dan katalisator

Apabila gaya belajar sama dengan gaya mengajar maka tidak ada pelajaran yang sulit, karena guru mengetahui cara belajar siswanya. Yang didapat dari  kecendrungan kecerdasan siswanya, jadi apabila guru mengajar melalui pintu kecerdasan yang dominan pembelajaran akan cepat dipahami, ketika ada siswa yang lambat dalam memahami pelajaran itu disebabkan karena guru tidak memahami gaya belajar siswanya misalnya kecerdasan siswanya adalah spasial visual lalu guru masuk lewat pintu kecerdasan linguistik maka siswa akan lambat menangkap pelajaran tersebut, karena tidak mengembangkan jenis kecerdasan yang paling menonjol yang dimiliki oleh siswa, bisa jadi kecerdasan linguistik merupakan  kecerrdasan yang terendah sehingga siswa sulit memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru. Bila guru memiliki kemampuan  dalam  memilih strategi yang sesuai dengan kecerdasan siswanya maka in formasi akan cepat ditangkap oleh siswa.

Teori Multiple Intelligence membuka kemungkinan pada berbagai macam strategi. Misalnya Kecerdasan linguistik dapat menggunakan strategi belajar dengan bercerita, menulis jurrnal, diary, curah gagasan, siswa presentasi, melakukan wawancara.

Kecerdasan logis matematis dapat menggunakan strategi, klasifikasi,  membuat analogi dan lain sebagainya.[20] Kecerdasan interpersonal ketika siswa berdiskusi perkelompok, kerjasama membuat proyek, kecerdasan musikal ketika siswa menyanyikan lagu, atau mengungkapkan materi dengan lagu dengan parodi,Kecerdasan intrapersonal dapat dikembangkan dengan memberikan waktu kepada siswa untuk merefleksikan dirinya, dan melakukan muhasabah. Kecerdasan kinestetik dapat dilakukan ketika kegiatan  sosio drama, deemonstari, simulasi. Kecerdasan naturalis akan berkembang ketika siswa diajak jalan-jalan ke alam terbuka. Kecerdasan spasial visual dapat berkembang ketika siswa memvisualisasikan materi, menonton film, dll.

Penulis memiliki banyak strategi Multiple Intelligence , kemudian penulis berupaya dari puluhan  strategi tersebut penulis buat khusus dalam pengajaran Agama Islam, semoga dapat menjadi rujukan bagi guru-guru PAI dalam mengajarkajn PAI agar lebih menarik dan interaktif dan dapat menggali kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.

Strategi pembelajaranPendidikan Agama Islam berdasarkan  multiple intelligences sangat banyak jumlahnya. Seiring dengan kreativitas guru, database strategi multiple intelligences juga terus berkembang. Betapa luasnya aktivitas pembelajaran  mengandung beberapa strategi multiple intelligences. Kebingungan yang dialami banyak guru biasanya berawal dari pemikiran untuk mengembangakan strategi ini dengan fokus hanya pada satu kecerdasan. Contohnya pada saat guru mencoba menguraikan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kecerdasan linguistik dan tidak menyentukh kecerdasan lain, jika cara ini dipakai, guru tersebut akan menemui kesulitan dalam aplikasi strategi multiple intelligences.

Namun sebaliknya, pelaksanaan startegi ini akan menjadi lebih mudah jika langkah awal difokuskan pada model aktivitas pembelajaran dahulu, setelah itu dilakukan analissis terhadap aktivitas tersebut berkaitan dengan kecerdasan apa saja,[21]

Dalam aktivitas pembelajaran terdapat dua , atau tiga strategi bahkan lebih kemudian kita memilih stategi induk yaitu strategi yang dominan yang kita gunakan dalam proses pembelajaran. Dalam Strategi pembelajaran multiple intelligences  ini terdiri dari : defenisi strategi, point-poit prosedur atau SOP ,  Multiple intelligences approach, dan contoh aktivitas.

Berikut ini beberapa contoh strategi pembelajaran multiple intelligences:

  1. Action Research : aktivitas pembelajaran yang meminta siswa untuk membuat hipotesis terhadap materi terlebih dahulu. Hipotesis tersebut kemudian dibuktikan dengan pengumpulan data, melakukan analisis dan diakhiri dengan kesimpulan. Kata kunci dari strategi ini adalah hipotesa.

Strategi Action Research terdiri atas prosedur:

  • The Question: membuat pertanyaan hipotesa atau pengungkapan masalah.
  • Data Collection: melakukan pengumpulan data yang terkait dengan masalah
  • Data Analysis: melakukan analisa terhadap data-data yang terkumpul untuk memecahkan masalah
  • The Findings: menemukan beberapa alternatif cara menyelesaikan masalah.
  • The Action Plan: melakukan setiap rencana yang sudah ditemukan berdasarkan prioritas.

Contoh aktivitas :

  • Apakah aku sudah harus berzakat?
  • Siswa diminta membuat hipotesa: apakah mereka sudah wajib mengluarkan zakat atau belum?
  • Siswa diminta untuk menata dan menghitung barang-barang yang dimilikinya beserta harganya, termasuk perhiasan dan pakaian
  • Siswa mempresentasikan hasil pendataannya
  • Siswa menghitung total nilai dari barang-barang atau hartanya sesuai dengan data.
  • Penentuan wajib zakat atau belum.

Multiple Intelligence Approach : Logis mathematic, Linguistic

 

  1. Klasifikasi : pengelompokan premis-premis berdasarkan kriteria, ciri-ciri dan indikator tertentu. Guru mengenalkan jenis-jenis hewan kepada siswa dengan menjelaskan tentang ciri-cirinya.

Strategi Klasifikasi terdiri atas prosedur:

  • pengenalan konsep
  • indikator klasifikasi
  • proses pencocokkan
  • pembahasan kesimpulan

Contoh aktivitas :

  • Guru menyebarkan banyak jumlah hewan
  • Guru menetapkan area klasifikasi : 1.Halal, 2. Haram
  • Guru meminta kepada siswa untuk mengklasifikasikan hewan kedalam 2 area tersebut.
  • Siswa menkalsifikasikan mana hewan yang halal dan haram untuk dimakan
  • Siswa dan guru berdiskusi dari hasil pengelompokan yang dibuat oleh siswa
  • Guru berdiskusi kepada siswa tentang hasil dari pengelompokkan tersebut

Multiple Intelligences Approach :  Matematis logis, naturalis

Ranah multiple intelligences tersebut sangat mungkin berkembang, bergantung pada prosedur aktifitas yang dirancang oleh guru

  1. Visualisasi : kemampuan untuk membuat atau mengingat gambaran visual secara imajiner. Banyak penemuan besar diawali dengan pemahaman visualisasi. Strategi pembelajaran yang mengaitkan konsep pembelajaran dengan gambar, lambang atau sibol tertentu. Memvisualisasikan sebuah konsep/ide atau m enggambar visualisasi sebuah konsep/ide

Strategi Visualisasi terdiri atas prosedur:

  • Konsep,
  • Gambar visual,
  • penjelasan gambar

Contoh aktivitas :

  • Guru mendefeninisikan arti dari haji
  • Siswa diminta untuk menggambarkan defenisi haji
  • Siswa mempresentasikan gambar yang dibuat

Multiple Intelligences Approach: Spasial visual dan interpersoanal

  1. Mind map : cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak-Mindmap adalah : cara mencatat kreatif, efektif , dan secara harfiah akan “memetakan pikiran-pikiran kita.[22]teknik pembuatan grafik yang ,menyediakan kunci-kunci umum untuk mengoptimalkan potensi otak dengan memanfaatkan kata-kata, image, nomor, logika, irama, warna dan dimensi-disajikan dalam pola yang unik. Sistem ini merupakan cara mencatat kreatif yang memudahkan untuk mengingatkan banyak informasi dan mempresentasikan secara akurat dan menyenangkan. [23]

Strategi Mind Map terdiri atas prosedur:

  • Kertas dalam bentuk lanskap
  • Gagasan utama di tengah kertas
  • Tambahkan cabang dari pusatnya untuk tiap-tiap point kunci
  • Gunakan pulpen warna-warni
  • Tuliskan kata kunci pada tiap-tiap cabang
  • Kembangkan untuk menambah detail
  • Tambahkan simbol dan ilustrasi

Contoh Aktivitas:

  • Membuat Mind Map tentang shalat, puasa dan zakat

Multiple Intelligences Approach: Spasial visual, linguistic

  1. Flash Card : Strategi pembelajaran yang mengkaitkan konsep pembelajaran dengan gambar dalam kartu. Permainan kartu merupakan alat belajar yang efektif. Dengan berbagai macam pola permainan, permainan kartu dapat digunakan dalam berbagai topik bidang studi

Strategi Flas Card terdiri atas prosedur:

  • Konsep,
  • Flash card,
  • Kesimpulan

Contoh aktivitas :

  • Guru bercerita tentang keajaiban alam
  • Guru mengajak diskusi siswa tentang penciptaan alam semesta dan penciptanya yang menunjukkan keagungan dan kebesaran kekuasaan Allah.
  • Guru beserta siswa menyanyikan lagu sifat-sifat Allah (Wujud-mutakalliman)
  • Permainan game (Siswa dibagi menjadi 2 kelompok, guru membagikan kartu sifat wajib Allah beserta artinya, masing-masing kelompok menjodohkan sifat wajib dengan artinya, Kelompok yang jawabannya paling banyak benarnya, dialah pemenangnya. Permainan diulang sampai siswa benar-benar memahami arti sifat wajib. Model permainan bisa diganti dengan persiswa.)
  • Guru menjelaskan makna sifat wajib Allah

Multiple Intelligences Approach: spasial visual, interpersonal dan kinestetik

  1. Movie Learning : Strategi pembelajaran yang mengaitkan konsep pembelajaran dengan tayangan film. Pembelajaran dengan audio visual akan lebih efektif.

Strategi Movie Learning terdiri atas prosedur:

  • Konsep
  • Film
  • Diskusi

Contoh Aktivitas

  • Menonton CD tentang Praktik Haji
  • Membuat laporan dari film
  • Berdiskusi tentang Film
  • Multiple Intelligences Approach: spasial visual
  1. Sosio Drama : Metode drama adalah metode holistik yang menggabungkan kemampuan mengingat, berekspresi, beraktivitas dan makna sebuah peran dan jalan cerita. Banyak konsep pengajaran yang rumit dicerna oleh siswa dapat dengan mudah diselesaikan dengan metode drama. Sayang sekali sedikit guru yang menggunakan metode ini dalam proses pembelajaran.

Strategi Sosio Drama terdiri atas prosedur:

  • Pembuatan skenario, yang terdiri dari list skenario, intro cerita, tokoh-tokoh.
  • Penetapan narasi dan permasalahan yang harus dijawab siswa
  • Pementasan dalam kelas
  • Evaluasi permasalahan.

Contoh aktivitas

  • Kisah tentang Abraha yang ingin menghancurkan Ka`bah

Multiple Intelligences Approach: Kinestetik, Linguistik dan Interpersonal

  1. Environment Learning,: strategi pembelajaran dengan mengunjungi suatu tempat yang punya manajemen tertentu (Get Something)

Strategi Environment Learning terdiri atas prosedur:

  • Lingkungan yang kan dikunjungi
  • Ruang lingkup
  • Laporan

Contoh Aktivitas

  • Melakukan kunjungan ke Bazis

Multiple Intelligences Approach: Linguistik dan Interpersonal

  1. Identifikasi : Pemahaman konsep dengan cara mencari beberapa konsep dengan cara mencari beberapa cirri yang melekat pada sebuah objek. Siswa melakukan aktivitas mengidentifikasi atau mengetahui ciri-ciri sesuatu yang ingin diketahui.

Strategi Identifikasi terdiri atas prosedur:

  • Objek atau konsep
  • Proses identifikasi
  • Hasil identifikasi

Contoh  aktivitas

  • Mengidentifikasi ciri-ciri orang munafik

Multiple Intelligence Approach : Log Mat, Spasial Visual , Intrapersonal

  1. Penokohan :
  • Konsep
  • Tokoh
  • Aktivitas

 

Contoh Aktivitas:

  1. Dalam kelompok, tentukan sebuah konsep,

biasanya terkait dengan penanaman karakter, misalnya :

>  Kejujuran

>  Memuliakan Orang Tua

>  Kedermawanan

  1. Tentukan Tokoh (bukan fiktif) yang memiliki karakter atau sifat tersebut
  2. Lakukan aktivitas (misalnya menceritakan peran sang Tokoh), sehingga konsep tersebut di atas tersampaikan

 

Multiple Intelligence Approach : Spasial, Linguistik dan Kinestetis

  1. KESIMPULAN

Tahun 1905 Alfred Binet dkk menciptakan tes kecerdasan yang pertama dan memberikan opini kepada masyarakat bahwa kecerdasan itu dapat diukur secara obyektif dan dinyatakan dalam satu angka yaitu nilai IQ. Multiple Intelligences lahir sebagai koreksi terhahadap kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfred Binet (1904) yang meletakan dasar kecerdasan seseorang pada Intelligences quotient (IQ). Berdasarkan tes IQ yang ditemukannya, Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam rentang skala tertentu yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa dan logika semata padahal masih ada kecerdasan yang lain. Menurut Gadrner  yaitu kinestetik, interpersonal, intrapersonal, musikal, dan kecerdasan naturalis.

Multiple intelligencemerupakan teori yang di gagas oleh Dr. Howard Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University. Gardner mendefenisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang bernilai budaya.

Penerapan Pembelajaran agama Islam dengan menggunakan strategi multiple intelligences  kan mendorong guru mengajar secara kreatif dengan menggunakan  Sembilan cara dan diapun akan memandang anak didiknya secara positif akan memandang setiap siswa adalah cerdas tidak ada siswa yang bodoh, kemampuan guru untuk menggali potensi yang dimiliki oleh setiap siswanya. Apabila proses pembelalajaran dapat dapat mengembangan seluruh kecerdasan yang dimiliki pada setiap siswa, niscaya proses pembelajaran akan mengalami kesuksesan yang besar. Proses pembelajaran yang dibangun dengan secara menyenangkan dan demokratis.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman Abror, Psikologi pendidikan,  Yogyakarta : Tiara wacana, 1993

Arifin, M,  Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan     Pendekatan Interdisipliner, Jakarta Bumi Aksara, 2000

Amstrong, Thomas, Multiple Intelligence in the Classroom, Virginia :  Association Supervision and Curriculum Development, 2000

Budiarsih, C.  Belajar dan Pembelajaran  Jakarta :  Rieneka Cipta, 2005

Buzan, Toni, Buku Pintar Mind Map, alih bahasa oleh Susi Purwoko, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2012

Campbell, Linda, Bruce Campbell dan Dee Dickinso, Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Depok : Intuisi Press, 2006

Chatib, Munif, Sekolahnya Manusia sekolah berbasis Multiple Intelligences di Indonesia , Bandung: Penerbit kaefa  PT. Mizan Pustaka, 2008

Chatib, Munif,  Gurunya Manusia, Bandung : Penerbit Kaefa  PT Mizan Pustaka, 2011

Depag RI/Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Kurikulum Pendidikan Sekolah Menegah Pertama , Jakarta : 2008

 

Goleman , Daniel,  Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosi, mengapa EI lebih penting dari IQ, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007

Daradjat, Zakiah ,dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara , 1996

Gardner, Howard, Frame of Mind ; The  Theory of Multiple Intelligence New York : Basic Book, 2004

Hoerr, Thomas R. Buku Kerja Multiple Intelligence. Kaifa : Bandung. 2007

Mulyasa, E , Kurikulum yang disempurnakan , pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar Bandung : Remaja Rosda karya 2006

 

Salma, Dewi,  Prawiladilaga,  dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana,  2008

Syurfah, Ariani , Multiple Intelligence for Islamic Teaching, Bandung : Sygma Publising 2009

 

Sabri , Ahmad, Strategi Belajar Mengajar, Micro Teaching, Jakarta : Quantum Teaching, 2005

Sanjaya , Wina, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2010

[1] Zakiah Daradjat,dkk, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara ) 1996

[2] Depag RI/Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Kurikulum Pendidikan Sekolah Mennegah Pertama (Jakarta : 2008), 22

[3] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembanagan Kurikulum Tingat Satuan pendidikan  (KTSP) (Jakarta : Kencana 2010)278

 

[4] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembanagan Kurikulum Tingat Satuan pendidikan  (KTSP) (Jakarta : Kencana 2010)281-290

[5] Munif Chatib, Gurunya Manusia, Jakarta : Pebnerbit Kaefa PT Mizan Pustaka) 128

[6] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar : Micro Teaching, Jakarta : Quantum Teaching) 1

[7]  Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Kencana 2010) 294-295

[8]  Dewi Salma Prawiladilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, (jakarta : Kencana 2008)  69

[9] Abdurrahman Abror, Psikologi pendidikan (Yogyakarta : Tiara wacana, 1993) 43

[10]  Dewi Salma Prawiladilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, (jakarta : Kencana 2008)  61

[11] Howard gardner, Frame of Mind ; The  Theory of Multiple Intelligence ( New York : Basic Book, 2004), Twentieth-University edition

[12] Thomas Amstrong, Multiple Intelligence in the Classroom, (Virginia, Association Supervision and Curriculum Development

[13] Daniel, Goleman , Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosi, mengapa EI lebih penting dari IQ, jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007

[14] Howard Gardner, Frame of Mind ; The Theori of Multiple Intelligences (Newyork : Basic book), Twentieth-Universey Edition

[15] Ariani Syurfah, Multiple Intelligence for Islamic Teaching, Bandung : Sygma Publising vii

[16] Fitrah berasal dari kata Fatoro yang berarti menciptakan atau menguak, secara terminologi berarti “sifat yang dibawa sejak lahir

[17] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta Bumi Aksara, 2000), cet ke-5, 101-103

[18] Munif Chatib, Gurunya Manusia, (Bandung  : Penerbit   Kaefa PT Mizan Pustaka 2011) 72

[19] C. Budiarsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta, Rieneka Cipta, 2005) 121

[20] Linda Campbell, Bruce campabell dan Dee Dickinson, Metode praktis Pembelajarn Berbasis Multiple Intelligence, (Depok : Intuisi Press, 2006), 62

[21] Munif Chatib, Sekolahnya Manusia sekolah berbasis Multiple Intelligences di Indonesia ,(Bandung: Penerbit Kaefa PT. Mizan Pustaka 2008), 119

[22] Toni Buzan , Buku pintar mind map, alih bahasa.Susi Purwoko (Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2012),  4

[23] Ariani Syurfah, Multiple Intelligence for Islamic Teaching, Bandung : Sygma Publising ix

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *