Deradikalisasi: Sebuah Tawaran Pemahaman Menuju Islam Rahmatan Lil ‘Alamin


Oleh: Fuad Masykur Iskandar
(Alumni PP.Al-Ihya Ulumaddin, Kesugihan, Cilacap. Dosen pada STAI Binamadani, Tangerang. Peneliti pada “Rahmat Semesta Center” Lembaga Penelitian dan Pengembangan Keilmuan, Sosial dan Dakwah, Ciputat.)

Diskursus tentang jihad selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan, baik dari kalangan Islam sendiri maupun non muslim. Bagi kalangna Islam ajaran jihad adalah inhern di dalamnya dan setiap muslim secara otomatis adalah seorang mujahid. Sementara bagi kalangan non muslim ajaran jihad adalah merupakan pintu masuk untuk menyerang dan mendiskriditkan Islam. Oleh kalangan Barat istilah tersebut sering disalahpahami sebagai “perang suci” untuk melakukan penyerangan dan pemaksaan terhadap orang-orang kafir agar masuk Islam. Jelas hal ini memunculkan
citra negatif terhadap agama dan umat Islam.

Jihad bagi umat Islam memang merupakan ajaran yang sangat penting dalam pengamalan, pengembangan dan pelestarian agamanya. Namun apabila dilihat dari aspek sejarah, jihad dalam arti perang, diperintahkan Allah kepada Rasulullah Saw dan umat Islam adalah dalam upaya menghadapi perlakuan dan serangan yang dilancarkan oleh musuh Islam berupa perlakuan yang menyakitkan seperti teror, intimidasi, ejekan, penganiayaan fisik, kelaliman dan serangan terorganisir. Pada awal Islam jihad dilakukan dengan menyampaikan dakwah. Kemudian pada masa Madinah, disamping jihad dalam bentuk dakwah, Allah juga mewajibkan perang bagi umat Islam sebagai bentuk jihad.

1. Jihad dalam Lintas Sejarah

Dalam ajaran Islam, peperangan yang boleh dilakukan adalah bukan sembarang perang. Namun dilakukan dengan penuh etika dan rambu-rambu yang harus ditegakkan. Setiap kali Rasulullah SAW mengutus atau mengirim pasukan-pasukan ke medan perang, ia selalu memberikan warning terkait dengan aturan-aturan perang. Diantaranya
sebagaimana termaktub dalam hadist yang diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah: Beliau bersabda: “Berperanglah kalian dengan nama Allah, perangi orang-orang yang ingkar terhadap Allah, perangi mereka dengan tidak berbuat curang (yaitu mengambil harta rampasan dengan jalan khianat), melanggar janji, membunuh korban dengan cara
mutilasi, serta membunuh anak-anak…..”[1]

Hadits lain yang diriwayatkan dari Yahya bin Adam, ia berkata: Suatu ketika Rasulullah SAW melepas pasukan perangnya, beliau berpesan :Berangkat peranglah kalian semua dengan mengucapkan Bismillah wa fi sabilillah, perangilah musuh-musuh Allah,(tapi ingat) janganlah engkau membunuh orang tua yang sudah udzur, dan jangan pula engkau membunuh anak kecil, perempuan dan juga janganlah engkau membabibuta.[2] Hadis yang riwayatkan dari Ismail bin ‘Aliyah juga menyebutkan: Suatu ketika Rasulullah mengutus pasukan perang yang saya berada di alamnya, Rasulullah berpesan agar pasukan jangan sampai membunuh orang yang sedang bekerja mencari nafkah dan para pembantu rumah tangga.[3]

Etika perang ini tidak hanya berlaku pada era Nabi SAW saja, tetapi juga dipraktekkan oleh para khalifah setelahnya. Abu Bakar, R.A misalnya, ketika menjabat khalifah juga menekankan hal yang serupa. Kepada komando pasukan di Syiria, ia memberi intruksi: Apabila kamu berhadapan dengan musuh, bertempurlah dengan jantan, dan jangan sekali-kali mundur. Dan jika kamu memperoleh kemenangan, janganlah kamu membunuh anak-anak, orang lanjut usia dan kaum perempuan. Jangan memusnahkan pohon kurma, dan jangan pula membakar pohon gandum, jangan menebang pohon-pohon buah-buahan, dan jangan pula membinasakan ternak, terkecuali beberapa ekor yang kamu sembelih untuk bahan makanan kamu. Jika kamu membuat perjanjian atau pengumuman, tepatilah itu dan jadilah teladan yang baik seperti yang kamu ucapkan. Dalam perjalanan, kamu akan menjumpai beberapa orang yang tekun menjalankan agama yang hidup menyendiri dalam biara, yang membulatkan tekad untuk mengabdi kepada Allah dengan cara itu. Biarkan mereka, dan janganlah kamu membunuh mereka dan menghancurkan biara mereka[4].

Khalifah Umar Bin Khatab juga menganjurkan hal yang sama: Umar pernah mengintruksikan lewat surat yang ia kirim kepada komandan pasukan perangnya: Jangan lah kalian membunuh peremuan-perempuan dan anak-anak, dan janglah engkau membunuh orang yang sedang menggembala hewan.[5]

Statement Rosulullah SAW, sahabat Abu Bakar RA dan Sahabat Umar RA di atas sangatlah terang, bahwa kendati Islam mensyari’atkan perang, tetapi peperangan yang sangat beradab, jauh dari kesan bengis, kasar dan biadab. Hal ini tentunya jauh berbeda dari apa yang dikesankan oleh dunia Barat bahwa Islam disebarkan dengan perang suci. Dan juga menganggap setiap tentara Islam menginvasi negara lain, ia selalu memberi tiga pilihan: masuk Islam, membayar jizyah atau pedang.

Sebenarnya kesan pejorative Barat terhadap Islam tersebut juga dipicu oleh ide sebagian aliran politik Islam yang membuat garis demarkasi antara dâr al- Harb dan dâr al-Salâm yang implikasi politisnya adalah bahwa selama masih ada negara non Islam maka wajib bagi setiap muslim untuk mengangkat senjata. Tidak sampai di situ, sebagian kelompok Muslim juga menghalalkan tindakan teror dengan senjata bom bunuh diri untuk menyerang non muslim di luar medan perang.

Dalam konteks Indonesia pun telah terjadi beberapa kali tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama dan jihad melawan kemungkaran. Sebutlah kejadian pengeboman yang terjadi di “Diskotik Sari Club” Legian, Bali pada sabtu tanggal 12 oktober 2002. Bom bunuh diri tersebut menewaskan 187 orang dan 281 luka-luka.6, kejadian bom Hotel JW. Mariot 1, bom di depan Kedutaan Australia, terakhir bom bunuh diri di depan hotel JW Mariot dan Ritz Carlton tahun 2009, semuannya dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengusung nama Islam dan dakwah Islamiyah dan menganggap tindakannya itu adalah sebagai bentuk Jihad Fisabilillah dan akan mendapatkan balasan sorga kelak.

Pertanyaannya adalah apakah benar Islam memerintahkan “perang suci” dalam artian perang melawa kaum kafir dengan tujuan memaksa mereka untuk memeluk agama Islam, atau menindas dan membinasakan mereka jika menolak menjadi orang Islam, sementara al-Qur’an memfirmankan: لا اكِْرَاه فِيْ الدِّيْنِ (tidak ada paksaan untuk memeluk agama)? Apakah benar Rosulullah memerintahkan berperang terus-menerus tanpa henti melawan dunia kafir sampai mereka takluk kepada Islam, sementara al- Qur’an menyebutkan:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يقَُاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللّه لا يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al- Qur’an surat al- Baqarah [2]:190)

Dan al-Qur’an juga menyebutkan :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَة وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ فَإِنِ انتَهَوا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (al-Qur’an surat al- Baqarah [2]:193)

Dan juga apakah benar tindakan terorisme (muthathorifîn) yang membabi buta termasuk jihad di jalan Allah, sementara al- Qur’an menyebutkan:

مَن قَتَلَ نفَْسا بِغَيْرِ نفَْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جمَِيعا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جمَِيعا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (al-Qur’an surat al-Maidah [5]:32)

Apakah betul Islam menjatuhkan hukuman mati terhadap orang murtad (keluar dari Islam) sementara Nabi SAW membiarkan seorang Arab pedalaman yang secara terang-terangan meminta dikembalikan baiatnya (murtad) dan kembali ke daerah pedalaman dengan aman.(HR.Bukhari Hadits 47)7

2. Pengertian Jihad dan Ruanglingkupnya.

Secara etimologis (bahasa) kata jihad berasal dari kata al-juhd yaitu upaya, kesungguhan dan kesulitan.8 Kata jihad ini juga masdar dari “jahadtu – jihâdan”, yaitu saya mendapati kesukaran.9 Di samping itu akar kata jihad juga bisa berasal dari jâhada yang artinya “(dia) mengerahkan upaya” atau “(dia) berusaha”. Dengan demikian, jihad berarti berjuang keras dan secara tepat melukiskan usaha maksimal yang dilakukan seseorang untuk melawan sesuatu yang keliru.10 Sedangkan menurut pengertian terminologis (istilah), jihad adalah mengerahkan segala kemampuan untuk menangkis serangan dan menghadapi musuh yang tidak tampak yaitu hawa nafsu syaitan dan musuh yang tampak yaitu orang kafir.11 Menurut al-Raghib al-Isfahani jihad dalam al-Qur’an mencakup tiga hal, yakni: 1). Berjuang sunggh-sungguh
melawan musuh untuk menegakkan agama Allah. 2). Berjuang sungguh-sungguh melawan syaitan yang selalu menyebabkan munculnya kejahatan. 3). Berjuang sungguh-sugguh melawan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kemungkaran dan kemaksiatan. Kemudian, menurut Ibn Qayyim al- Jauziyyah makna jihad itu mengandung empat hal. Yakni: 1). Berjuang melawan Hawa Nafsu. 2).Berjuang melawan syaitan. 3).Berjuang melawan orang kafr. 4).Berjuang melawan orang munafik.

Menurut Abdul Karim Zaidan, para ulama mendefinisikan jihad ke dalam dua pengertian. Pertama, segala usaha dan upaya sekuat tenaga serta kesediaan untuk menanggung kesulitan di dalam memerangi dan menahan agresi musuh dalam segala bentuknya. Jihad seperti ini juga sering disebut dengan al-Qital atau al-Harb. Kedua, jihad juga dapat bermakna mencurahkan segala upaya dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk menjaga dan meninggikan agama Allah SWT (Li ‘Ilai Kalimatillah)[12]

Muhammad Ali mendefinisikan jihad ke dalam dua pengertian, pertama, jihad berarti berjuang sekuat tenaga, baik dengan lisan atau dengan perbuatan. Dalam al-Qur’an, kata lisan memiliki pengertian yang luas. Kedua, bahwa jihad dalam arti yang lebih sempit yaitu perang untuk menjaga diri dari serangan lawan.[13]

Namun pengertian secara umum, jihad berarti segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kejahatan serta kedzaliman, baik terhadap diri pribadi maupun dalam masyarakat.[14]

Dalam al-Qur’an ataupun al-Hadist, kata-kata jihad kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya pengertiannya tidak hanya terbatas pada pertempuran, peperangan, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahi mungkar (perintah berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan keji). Dari pengertian ini, berarti jihad harus berlangsung secara berkesinambungan, baik dalam situasi aman maupun dalam situasi perang, karena tegaknya Islam sangat ditentukan oleh semangat jihad dalam semua aspek kehidupan. Dan kalau sebaliknya, semangat jihad telah memudar dari kalbu umat Islam, maka etos kerja akan menurun, sifat apatis akan muncul yang akhirnya akan membawa kepada kemunduran dan kehancuran umat Islam itu sendiri.

3. Pembagian Jihad.

Dengan demikian penggunaan istilah jihad sesungguhnya mencakup makna yang sangat umum. Istilah jihad tidak hanya digunakan dalam konteks perang melawan musuh Islam dengan senjata.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziah15, membagi jihad ke dalam tiga bentuk jika dilihat dari pelaksanaannya, masing-masing adalah jihad muthlaq, jihad hujjah, dan jihad ‘am. Jihad muthlaq adalah perang melawan musuh di medan pertempuran. Jihad ini mempunyai persyaratan tertentu di antaranya adalah bahwa perang tersebut harus bersifat defensif,[16] untuk menghilangkan fitnah,[17] menciptakan perdamaian,[18] serta mewujudkan kebajikan dan keadilan.[19] Perang juga tidak dibenarkan bila dilakukan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang yang bukan Islam, untuk tujuan perbudakan, penjajahan, dan perampasan harta kekayaan. Juga tidak dibenarkan membunuh orang-orang yang tidak terlibat dalam peperangan tersebut, seperti wanita, anak kecil dan orang-orang tua. Orang yang wajib berjihad dalam pengertian perang adalah orang-orang yang memenuhi persyaratan yakni Islam, berakal, akil baligh, laki-laki, tidak cacat, merdeka dan mempunyai biaya yang cukup untuk pergi perang dan untuk keluarga yang ditinggalkan.[20]

Jihad hujjah adalah bentuk jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat. Sedangkan jihad ‘am adalah jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik bersifat moral maupun yang bersifat material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di tengah-tengah masyarakat. Jihad seperti ini dapat dilakukan dengan pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini juga bersifat berkesinambungan, tanpa harus dibatasi oleh ruang atau waktu, dan bisa dilakukan terhadap musuh nyata, setan atau hawa nafsu. Musuh yang nyata dimaksud di sini adalah disamping perang, juga berarti semua tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.[21]

Sampai pada titik ini dapat dipahami bahwa, memang salah satu bentuk jihad adalah perang (qital), namun yang perlu dipertegas di sini bahwa perang tidak selalu identik dengan jihad. Perang yang dapat dikategorikan jihad hanyalah perang yang dalam koridor kode etik yang telah ditetapkan dalam nash al-Qur’an dan hadits. Misalnya perang yang dilakukan pada saat membela agama karena musuh Islam menghendaki kebinasaan Islam melalui kekerasan senjata. Kemudian bagaimana perang yang dapat dikategorikan jihad dan sesuai dengan koridor al-Quran dan hadis? Penulis akan mencoba mengelaborasi pada bagian selanjutnya, InsyaAllah.

4. Bentuk-Bentuk Jihad

Berdasarkan dari definisi serta ruanglingkup jihad di atas, maka sesungguhnya ada banyak bentuk-bentuk jihad. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan banyaknya hadits yang menyebutkan hal itu. Di antaranya adalah:

Pertama, Haji Mambur. Dalam sebuah hadits, secara eksplisit Rasulullah Saw
menyebutkan bahwa haji mabrur adalah bentuk dari jihad. Hadis riwayat Bukhari :

حدّثنا عبدُ الرحمنِ بنُ المبارَكِ .…عن عائشة بنتِ طلحة عن عائشة أمّ المؤمنينَ رضيَ اللّ هُ عنها قالت: يا رسولَ اللّهِ , نَرَى الجهادَ أفضلَ العملِ , أفلا نُجاهدُ؟ قال, لا, ولكنّ أفضلَ الجهادِ حجّ مَبْرور.

“Aisyah ra berkata : Aku menyatakan kepada Rasulullah Saw : tidakkah kami keluar untuk berjihad bersamamu, aku tidak melihat ada amalan yang lebih baik dari pada jihad. Rasulullah Saw menyatakan : tidak ada, tetapi untukmu jihad yang lebih baik dan lebih indah adalah melaksanakan haji menuju haji yang mabrur.”

Pada riwayat Bukhari lainnya Rasulullah Saw bersabda :

حدّثَنا قَبيص ةُ حدّثَنا سفيانُ بنُ معاوية . …عن عائشة أُمّ المؤمنينَ عنِ النبيّ صلى الله عليه . وسلم سألَ هُ نِساؤه عنِ الجهادِ فقال: نِعمَ الجهادُ الحجّ 23

Aisyah menyatakan bahwa Rasulullah Saw ditanya oleh istri-istrinya tentang jihad, beliau menjawab sebaik-baik jihad adalah haji.

Kedua, Kemampuan menyampaikan kebenaran terhadap penguasa yang dzalim. Secara eksplisit Rasulullah Saw menurut hadis riwayat al-Turmudzi juga pernah menjelaskan hal itu. Yakni:

حَدّثنا الْقَاسِ م بنُ دِينَارٍ الْكُوفِيّ , أخبرنا عبدُ الرحمنِ بنُ مُصْعَبٍ أبو يَزِيدَ , .…عن أبي سعيدٍ الخُْدْرِيّ أَنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم قال: إِنّ مِنْ أَعْظَمِ الجِْهَادِ كَلِمَة عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ . 

Abu Sa’id al-Khudri menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Sesungguhnya diantara jihad
yang paling besar adalah mengemukakan kalimat keadilan terhadap penguasa yang dzalim.

Ketiga, Berbakti terhadap kedua orang tua juga termasuk bentuk jihad. Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua, diantaranya : QS Al-Baqarah 2: 83; 6:151; 17:23; 29:8; 31:14. Adapun dalam Hadis Rasulullah pernah bersabda :

حدثنا آدمُ …قال: سمعت عبدَ الله بنَ عمرٍو رضيَ الله عنهما يقول: جاء رجلٌ إلى النبيّ صلى الله عليه وسلم فاستأذَن هُ في الجهادِ فقال: أحيّ والِداكَ؟ قال: نعم. قال: ففيهما فجاهد.

“Seseorang datang kepada Nabi Saw untuk meminta izin ikut berjihad bersamanya. Kemudian Nabi Saw bertanya : apakah kedua orang tuamu masih hidup ? ia menjawab : masih, Nabi Saw bersabda : terhadap keduanya maka berjihadlah kamu.”

Dari hadist-hadits tersebut di atas maka sesungguhnya perang adalah hanya sebagian saja dari bentuk jihad. Kemudian, karena jihad memiliki sepektrum yang luas, maka alat dan objeknya pun juga berfarian. Dalam segi alat misalnya, Abdul Karim Zaidan membaginya menjadi dua, yakni: 1). Jihad dengan lisan. Yang dimaksud jihad dengan lisan adalah menerangkan ajaran-ajaran Islam dan menangkis pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. 2. Jihad dengan harta. Yaitu mendermakan harta dalam amal-amal kebajikan, terutama untuk membiayai para pejuang fi sabilillah dalam menghadapi musuh-musuh Allah.25 hal ini juga bisa diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdillah Ibn Mas’ud26:

عَنْ أَبِي رَافِعٍ , عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ أَنّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :…… فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِه فَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ . وَلَيْسَ وَرَاء ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبّة خَرْدَلٍ .

Artinya: Dari Abi Râfi’, dari Abdullah ibn Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah SAW. Bersabda:

Barangsiapa yang berjihad dengan tangannya maka ia seorang mu’min, Barangsiapa yang berjihad dengan tangan mereka maka ia seorang mu’min, Barangsiapa yang berjihad dengan mulut mereka  maka ia seorang mu’min, Barangsiapa yang berjihad dengan hatinya mereka maka ia seorang mu’min. selain dar itu tidak ada keimanan (pada diri mereka) walaupun sebesar biji sawi.

Kemudian dari segi objeknya, Ibn Qayyim Al-Jauziyah membaginya menjadi empat macam, yaitu: 1). Jihad melawan hawa nafsu. Yang dimaksud adalah melawan hawa nafsu agar manusia mau mempelajari ajaran-ajaran Islam, mau mengamalkanya, mau menyebarkannya kepada orang lain dan mau bersikap sabar dalam menghadapi tantangan-tantangan modernitas. 2). Jihad melawan Syaitan. Yaitu dengan upaya maksimal dalam rangka untuk menangkis pemikiran-pemikiran atau ajaran-ajaran yang menggoyangkan dan merusak iman. 3). Jihad melawan orang-orang kafir. Yaitu dengan mengerahkan segala kekuatan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah. 4).
Jihad melawan orang munafiq. Yaitu menangkis pemikiran-pemikiaran dan tuduhan-tuduhan orang-orang munafiq yang merugikan Islam.[27]

5. Antara Jihad, Ijtihad dan Mujahadah

Kata juhd atau jahd yang menjadi kata dasar dari term jihad, juga memunculkan istilah ijtihad yang merupakan istilah dalam terminologi fiqh. Ijtihad berarti:

استفراغ الوسع في طلب الظن بشئ من الاحكام الشرعية

(mencurahkan segala kemampuan untuk menggali hukum syari’ah yang bersifat dugaan kuat)28. Proses ijtihad ini menuntut pencurahan rasio secara maksimal untuk melakukan penelitian dengan kecermatan analisis terhadap teks-teks al- Qur’an maupun hadits sehingga seorang mujtahid berhasil menelorkan produk-produk hukumm Islam. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ijtihad adalah merupakan perjuangan akal pikiran.

Selain itu kata juhd atau jahd yang merupakan akar kata dari term jihad juga memunculkan term mujâhadah, sebuah istilah yang banyak dikaitkan dengan perjuangan ruhani sebagai sarananya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
konteks mujâhadah adalah sholat-sholat sunnah, puasa, dzikir, do’a-doa dan lain-lain. Kegiatan ini dilakukan secara teratur sebagai upaya maksimal untuk pembersihan hati dan penyucian jiwa yang bermuara pada puncak ketakwaan kepada Allah.

Ketiganya saling terkait karena memang berasal dari akar kata yang sama. Hanya medan perjuangannya sajalah yang berbeda. Tetapi untuk sampai pada predikat muslim sejati seorang mujahid itu haruslah seorang mujtahid sekaligus pelaku mujahadah sehingga dalam mengambil keputusan untuk berjihad tidak salah dan tetap dalam bimbingan kesucian jiwa dan keberhsihan hatinya, sehingga kalaupun ia mati tidalah mati sia-sia, namun mati sebagai syuhada.

6. Identifikasi dan Interpretasi Ayat-Ayat Jihad

Dalam konteks sejarah, memang perang merupakan salah satu bentuk jihad yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada umat Islam untuk melakukannya. Kata jihad terulang dalam Al-Qur’an sebanyak empat puluh satu kali dengan berbagai bentuknya. Sedangkan kata jihad sendiri hanya tersebut empat kali. Kata ini berasal dari jahd yang disebut lima kali atau juhd yang hanya disebut sekali saja. Kata jahd berarti sekuatkuatnya, seperti dalam Al-Qur’an surat Fâthir (35) :

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ

“Dan mereka bersumpah atas nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah.”(QS. al-Fathir [35]:42)

Sedangkan kata juhd berarti kemampuan, kekuatan, daya upaya atau kesanggupan. Satu-satunya kata dalam bentuk ini disebut dalam Al-Qur’an surat Al-Tawbat (9) :

الَّذِينَ يلَْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللّ هُ مِنْهُمْ وَلهَمُْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Orang-orang munafiq mencela orang-orang mu’min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan (kecuali sedikit) sebesar kemampuan mereka. Orang-orang munafik menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS. al-Taubat [9]:79)

Jihad merupakan aktivitas yang unik, menyeluruh dan tidak dapat disamakan dengan aktivitas lain –sekalipun aktifitas keagamaan–. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai dengan jihad, paling tidak, jihad diperlukan untuk
menghambat rayuan nafsu yang selalu mengajak kepada kedurhakaan dan pengabaian tuntutan agama.29 Allah swt berfirman dalam surat Al-Tawbat (9) :

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَة الحَْاجِّ وَعِمَارَة الْمَسْجِدِ الحَْرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لا يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّ هُ لا يهَْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang melaksanakan haji dan mengurus Majid Al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta jihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (QS. al-Taubat [9]:19)

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإ خْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَة تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنهََا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِي اللّ هُ بِأَمْرِه وَالل هُ لا يهَْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kamu, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul- Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. Al-Tawbat [9]: 24).

Karena itu, seorang mukmin pastilah mujahid dan tidak perlu menunggu izin atau restu untuk melakukannya. Hal ini berbeda dengan orang-orang munafik, sebagaimana pada dua ayat berikut yaitu surat Al-Tawbat (9):

لا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يؤُْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَاللّه عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak meminta izin kepadamu (Muhammad saw) untuk berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa”. (QS. al-Taubat[9]:44)

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللّهِ وَكَرِهُوا أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ الل هِ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) bergembira di tempat mereka di belakang Rasul, mereka tidak senang untuk berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah..”. (QS.al-Taubat{9]:81).

Mukmin adalah mujahid karena jihad merupakan perwujudan identitas kepribadian muslim, Al-Qur’an menegaskan dalam surat Al-’Ankabût (29) :

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّه لَغَ ني عَنِ الْعَالَمِينَ

Barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya untuk dirinya sendiri (berakibat kemaslahatan baginya). (QS.al-Ankabut[29]:6).

Karena jihad adalah perwujudan kepribadian, maka tidak dibenarkan adanya jihad yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Bahkan bila jihad dipergunakan untuk memaksa berbuat kebatilan, harus ditolak sekalipun diperintahkan oleh kedua orang tua. Allah swt berfirman dalam surat Luqman (31) :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَ لا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفا وَاتَّبِعْ

“Apabila keduanya (ibu bapak) berjihad (bersungguh-sungguh hingga letih memaksamu) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu, yang tidak ada bagimu pengetahuan tentang itu (apalagi jika kamu telah mengetahui bahwa Allah tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun), jangan taati mereka, namun pergauli di dunia dengan baik…” (QS. Luqman[31]:15)

Mereka yang berjihad pasti akan diberi petunjuk dan jalan untuk mencapai cita-citanya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِينََّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّه لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang berjihad di jalan kami, pasti akan kami tunjukan pada mereka jalanjalan kami, sesungguhnya Allah swt beserta orang-orang yang baik”. (QS. al-Ankabut[29]:69)

Yang terpenting dari segalanya adalah bahwa jihad harus dilakukan demi Allah, bukan untuk memperoleh tanda jasa, pujian apalagi keuntungan duniawi. Berulang-ulang Al-Qur’an menegaskan kata fi sabil Allah (di jalan Allah). Bahkan dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan untuk berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.[30] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, kelesuan, tidak pula pamrih. Tetapi jihad tidak bisa dilaksanakan tanpa modal, karena itu jihad harus disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tercapai dan selama masih ada modal, selama itu pula jihad dituntut. Di sinilah letak relevansinya hadits riwayat Abu Daud yaitu:

…وَالجِْهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بعََثَني الله إلَى أنْ يقَُاتلَِ آخِرُ أُمّ تي الدّجّالَ لا يبُْطِلُه جَوْرُ جَائِرٍ وَلا عَدْلُ .« عَادِلٍ , وَالإيمَانُ بالأقْدَارِ

…. jihad itu akan berlangsung terus dimulai dari penunjukanku sebagai Rasul sampai umatku terakhir dibunuh oleh Dajjal (kiamat), bahkan jihad tersebut tidak dapat digugurkan oleh ketidakadilan orang yang lalim (jair), tidak juga keadilan orang yang adil. Ketiga, iman terhadap takdir.”

Dari riwayat di atas juga dapat diketahui bahwa Rasulullah Saw bukan hanya sekedar menjelaskan urgensi jihad saja tetapi menekankan kontinuitas pelaksanaan jihad. Secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah Saw bahwa tidak ada batasan waktu lagi umat Islam untuk melakukan jihad, karena jihad dimulai dari sejak awal bi’tsah, sampai nanti manusia dibunuh oleh Dajjal (kiamat).

7. Perang sebagai Salah Satu Bentuk Jihad.

Berdasarkan pada deskripsi di atas sesungguhnya telah terjadi kesalah pahaman dalam memaknai istilah jihad. Jihad biasanya hanya dipahami dalam arti perjuangan fisik atau perlawanan bersenjata. Ini mungkin terjadi karena seringnya kata itu terucap pada saat-saat perjuangan fisik. Memang diakui bahwa salah satu bentuk jihad adalah perjuangan fisik atau perang, tetapi harus diingat pula bahwa masih ada bentuk – bentuk jihad yang lain sebagaimana telah di uraikan pada bagian atas, disamping itu disinyalir Rasulullah pernah bersabda bahwa ada jihad yang lebih besar dari pada pertempuran fisik, sebagaimana sabdanya ketika beliau barusaja kembali dari medan peang “ Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar yakni jihad melawan hawa nafsu”

Para Mufassir sepakat bahwa ayat paling awal yang mengandung kata jihad adalah yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan (25) :

فَ لا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادا كَبِيرا

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang kafir dan berjihadlah menghadapi mereka menggunakan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. al-Furqan[25]:52)

Sejarah turunnya ayat-ayat Al-Qur’an membuktikan bahwa Rasulullah Saw telah diperintahkan berjihad sejak beliau di Makkah dan jauh sebelum adanya izin mengangkat senjata untuk membela diri dan agama. Ayat di atas menerangkan
tentang jihad yang berkaitan dengan tuduhan orang-orang kafir dan musyrik yang menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng orang-orang terdahulu yang dibacakan pada tiap pagi dan petang. Tentang tuduhan ini, Al-Qur’an menjawab pada surat Al-Furqan [(25) : 6 ] :

قُلْ أَنزَلَ هُ الَّذِي يعَْلَ م السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ هُ كَانَ غَفُورا رَّحِيما

“Katakanlah Al-Qur’an ini diturunkan (oleh Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.al- Furqan[25]:6).

Dalam situasi seperti itu Rasulullah harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa menginsafkan atau meyakinkan orang-orang kafir yang tidak mau beriman kepada Allah dan meragukan kitab suci Al-Qur’an. Adapun senjata yang dipakai oleh Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Kemudian jika ditilik dari segi objek ayat-ayat tentang jihad tidak menunjukan objek yang harus dihadapi. Misalnya al- Qur’an Surat at-Taubah[9]:20:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَة عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Yang secara tegas dinyatakan objeknya adalah al-Qur’an surat Ataubah ayat 73 dan at- Tahrim ayat 9 :

يَا أَيهَُّا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُن افِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Hal ini diperkuat dengan pendapat Al-Raghib Al-Isfahani yang menyebutkan bahwa jihad dan mujahad adalah mengerahkan segala tenaga untuk mengalahkan musuh. Dia membagi jihad menjadi tiga macam: 1). Menghadapi musuh yang nyata. 2). Menghadapi syaitan. 3). Menghadapi nafsu yang terdapat dalam diri masing-masing.
31 Menurutnya ketiga hal di atas tercakup dalam firman Allah Surat Al-Hajj (22):78 dan (QS. al-Baqarah (2): 218):

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِه

Berjihadlah demi Allah dengan sebenar-benar jihad. (QS. al-Hajj[22]:78)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَئِكَ يرَْجُونَ رَحمَْتَ اللّهِ

“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah, hanya mengharapkan rahmat Allah.” (QS. al-Baqarah (2): 218)

Teranglah disini bahwa menjastifikasi jihad untuk tindakan-tindakan tathoruf (radikal) yang bersifat ifsad(merusak) adalah distorsi dan mereduksi terhadap makna jihad itu sendiri. Oleh karena itu tidak ada tempat dalam Islam bagi pelaku-pelaku kekerasan dan gerakan-gerakan ekstrimisme. Justru maraknya gerakan radikalisme dalam masyarakat muslim secara langsung mempertegas citra lama tentang Islam yang dikesankan sebagian pihak sebagai agama yang radikal dan intoleran. Agama yang gelap, tertutup dan bengis. Memang umat Islam harus selalu waspada terhadap sekelompok kecil umat Islam yang disinyalir Rosulullah yang mebaca al- Qur’an namun tidak mendapatkan subtansinya, maka seburuk-buruknya makhluk.32

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *