Contextual Teaching and Learning


Contextual Teaching and Learning

A. Latar belakang Filosofis dan Psikologis CTL

Contextual Teaching and Learning (CTL) terpengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangan oleh Jean Peaget. Aliran filsafat konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistemologi Giambatsta Vico. Menurut Vico pengetahuan tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang mengamati. Selanjutnya, belajar bukanlah sekadar menghafal, tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna.

Sebagaimana Jean Piaget berpandangan bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemberitahuan orang lain, tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan demikian akan mudah dilupakan dan tidak fungsional.

Sedangkan latar belakang Psikologis. CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respons. Belajar tidak sesederhana itu, belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak sebenarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang.

B. Istilah dan Pengertian Contextual Teaching and Learning

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya bisa dilakukan berbagai cara, selain materi pelajaran yang dipelajari bersifat faktual, bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh, sumber belajar, media yang dihubungkan dengan pengalaman hidup nyata sehingga siswa dapat merasakan langsung manfaat belajarnya.

CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi materi pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna yang baru. B. Johnson Elaine mengemukakan Contextual teaching and learning enables students to connect the content of academic subject with the immediate context of their daily lives to discover meaning. It enlarges their personal context furthermore, by providing students with fresh experience that stimulate the brain to make new connection and conscuently, to discover new meaning.

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga Negara, dan tenaga kerja.

CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dengan prosesnya yang panjang, CTL menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisisan dan pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan.

Dari beberapa latar belakang dan pendapat tentang CTL. Untuk tentang belajar dalam konteks CTL;

  1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki
  2. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seprti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan.
  3. Belajar adalah proses pemecahan masalah membuat anak berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi juga mental dan emosi.
  4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks.
  5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning).

C. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas

Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yakni;

  1. Konstruktivisme (constructivism), pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang dialami siswa.Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: a. menjadikan pengetahuan bermakna dan relewan bagi siswa, b. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
  2. Inkuiri (inquiry), merupakan bagian inti dari kegaitan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apa pun materi yang diajarkan. Siklus inquiri terdiri dari; 1. observasi, 2. Bertanya, 3. Mengajukan dugaan, 4. Pengumpulan data, 5. Penyimpulan.Langkah-langkah inkuiri adalah sebagai berikut; a. Merumuskan masalah. b. Mengamati atau melakukan observasi. c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
  3. Bertanya (questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya”. Dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Hampir semua aktivitas belajar, dapat menerapkan questioning (bertanya); antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya.
  4. Masyarakat belajar (learning community), menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Kedua belah pihak saling memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kalau setiap oran mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.
  5. Pemodelan (modeling), dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan yang diketahui. Model juga bisa didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya, misalkan mendatangkan seorang perawat untuk memodelkan cara menggunakan thermometer untuk mengukur suhu tubuh pasiennya. Tahap pembuatan model dapat dijadikan alternative untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru.
  6. Refleksi (Reflection), adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon dari kejadian, aktivita, atau pengetahuan yang baru diterimanya. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa: pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, dan hasil karya.
  7. Penilaian autentik (authentic assessment), adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan ketrampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilaian tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik; dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur ketrampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat dilakukan sebagai feed back.  

     

     

     

    D. Karakteristik proses pembelajaran CTL

    1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), artinya apa yang akan dipelejari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
    2. Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya
    3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untu dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan
    4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasin dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa
    5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

E. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional

CTL Perlakuan pada Siswa sebagai Subjek, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran

Konvensional Objek, artinya siswa hanya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *