APAKAH SIAP BERBEDA? 4


Berbeda

 

Keragaman merupakan hal yang niscaya bagi kehidupan manusia dimana pun berada. Karena pada setiap “diri-kepala” individu seseorang dilatarbelakangi dengan bermacam-macam unsur yang membentu sistem kehidupan dirinya. Dan dari bermacam-macam unsur yang membentuknya itu pada individu masing-masing seseorng tentunya berbeda dengan individu yang lainnya.dari kondisi tersebut melahirkan suatu tatanan subsistem pandangan yang berbeda, yang akhirnya melahirkan sistem kebudayaan yang berbeda dan beragam.

Tentunya tidak hanya dalam kontek kebudayaan, tetapi dalam beberapa wilayah, semisal agama, bahasa, etnis, suku, dan sebagainya. Dengan demikian keberagaman merupakan keniscayaan yang tidak dapat terelakkan dan tidak dapat dihindarkan. Dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia, banyak kasus yang bergesekan dengan perihal keberagaman dan terkait dengan HAM sebagai warga negara.

Adanya ormas-ormas yang menganggap Pancasila tidak sesuai dengan Islam menjadi tantangan Indonesia ke depan. Pancasila mestinya sudah tidak dipertentangkan lagi dengan agama, terutama Islam. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama para founding fathers dalam mendirikan negara ini.

Tantangan lainnya adalah radikalisme agama. Adanya beberapa kelompok yang melakukan kekerasan atas nama agama menjadi sebuah keprihatinan. Islam tidak mengajarkan kekerasan karena Islam Rahmat bagi seluruh makhluk di bumi. Rasa intoleran yang dimunculkan sekelompok orang menimbulkan pertikaian dan konflik antar sesama warga negara bahkan antar sesama pemeluk agama.

Tidak hanya dalam ranah agama, tentunya, kajian multikulturalisme meliputi semua aspek perbedaan yang ada dan hadir dikehidupan kita. Kajian multikultural ini bagi saya sangat kompleks, tidak hanya terbatas pada budaya dan agama, tapi juga dalam kelas ekonomi, orientasi seksual, kaum difabel, dan lain-lain. semua aspek yang berbeda dengan orang atau komunitas yang dominan merupakan kajian multukulturalisme.

Secara historis, multikkulturalisme muncul di Kanada yang disebabkan banyaknya orang yang berimigran ke negara tersebut dengan berbagai ras, etnis, negara, bahkan agama. Multikkulturalisme di eropa lebih di tujukan kepada penyebaran Islam. Keberadaan imigran masyarakat muslim dari berbagai negara, semisal Maroko, Turki, dan Aljzair, di Eropa menimbulkan suatu kebudayaan yang baru di lingkungan masyarakat Eropa yang sekuler.

Islam dan Multikultural

Perkembangan multikulturalisme di Eropa banyak juga yang menentang dan tidak sepakat. Banyak faktor yang menghambat berkembangnya multikulturalisme di Eropa, terutama adalah faktor politik. Adanya nation-state di Eropa merupakan hal yang menjadi tantangan mendasar bagi perkembangan multikulturalisme. Banyak kaum elit di Eropa yang menolak multikulturalisme, karena ditakutkan akan memusnahkan budaya mereka yang selama ini hidup.

Politik suatu negera begitu berperan aktif dalam perkembangan multikulturalisme di berbagai negara di Eropa. Tanpa terkecuali di Indonesia, terutama yang begitu mencolok pada masa orde baru, yang dianggap sebagai masa “pemberangusan Keberagaman”. Segala hal selalu dibatasi oleh negara, mulai dari berekspresi sampai masalah masalah keyakinan. Kelakuan tersebut hanya didasarkan kepentingan politik pemerintahan orde baru.

Problem multikultural di Indonesia ada dua permasalahan besar. Pertama, keragaman identitas budaya daerah. Kedua, ada pergeseran pemerintahan dari pusat ke daerah.  Dua hal itu menjadi tantangan dalam mewujudkan Bhineka Tunggal Ika. Kita gampang tergeser mengenai rasa nasionalisme. Masing-masing orang mengaku nasionalisme tapi di lapangan terkadang sering terjadi kress.

Itu didukung dengan langgengnya kesejahteraan ekonomi di masyarakat. Selain itu, media yang mestinya memberikan informasi yang kredibel dan independen terkadang juga berpihak pada kelompok tertentu. Di masyarakat adanya penyakit prasangka/ buruk sangka di kalangan masyarakat. Sehingga antar golongan kerap kali menyalahi satu sama lain.

Perbedaan dijadikan sebagia ladang justifikasi. Satu kelompok merasa lebih benar dibandingkan dengan kelompok lain. Mestinya, perbedaan itu harus dijadikan sebagai ladang saling kenal satu sama lain. Itulah prinsip Islam sebagai rahmah li al-‘alamin.

Padahal, multikultural itu contoh dari akhlak Rasul. Allah menciptakan makhluk ini berbeda-beda. Untuk mengenal Allah kita harus mengenal yang lain (keragaman). Bagaimana kita akan mengenal tuhan kita. Sedangkan kita menghindari perbedaan yang sudah menjadi sunnatullah.

Pertanyaan mendasar yang bisa diajukan. Apakah kita siap melaksakan Islam yang multikultural? Tidak mungkin Islam menjadi rahmah li al-alamin, jika tidak dibingkai dengan akhlak (Rasulallah saw), ayat tentang Islam sebagai rahmat dan hadis tentang diutusnya nabi sebagai penyempurna akhlak.

 


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “APAKAH SIAP BERBEDA?