Antara Jihad, Ijtihad Dan Mujahadah


Oleh :
Fuad Masykur Iskandar
(Dosen Tetap STAI Binamadani Tangerang)

Jihad adalah sesuatu yang amat mulia dan luhur. Jihad berasal dari bahasa Arab dari akar kata jahada, berarti bersungguh-sungguh. Kata jahada (bersungguh-sungguh) membentuk tiga kata kunci yang dapat mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna (insan kamil). Jihad berarti perjuangan fisik secara optimal dilakukan untuk mencapai tujuan. Ijtihad berarti perjuangan secara intelektual yang dilakukan secara bersungguh-sungguh untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan mujahadah adalah kelanjutan dari perjuangan secara fisik dan intelektual, yaitu perjuangan batin atau rohani.

Kata juhd atau jahd yang menjadi kata dasar dari term jihad, memunculkan istilah ijtihad yang merupakan istilah dalam terminologi fiqh. Ijtihad berarti اِسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِي طَلَبِ الظّنِّ بِشَئٍْ مِنَ الْاَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ (mencurahkan segala kemampuan untuk menggali hukum syari’ah yang bersifat dugaan kuat). Proses ijtihad ini menuntut pencurahan rasio secara maksimal untuk melakukan penelitian dengan kecermatan analisis terhadap teks-teks al-Quran maupun hadis sehingga seorang mujtahid berhasil menelorkan produk-produk hukumm Islam. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ijtihad adalah
merupakan perjuangan akal pikiran.

Selain itu kata juhd atau jahd yang merupakan akar kata dari term jihad juga memunculkan term mujâhadah, sebuah istilah yang banyak dikaitkan dengan perjuangan ruhani sebagai sarananya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam konteks mujâhadah adalah sholat-sholat sunnah, puasa, dzikir, do’a-doa dan lain-lain. Kegiatan ini dilakukan secara teratur sebagai upaya maksimal untuk pembersihan hati dan penyucian jiwa yang bermuara pada puncak ketakwaan kepada Allah SWT.

Ketiganya saling terkait dan tidak bias dipisahkan karena memang berasal dari akar kata yang sama, hanya medan perjuangannya sajalah yang berbeda. Yang perlu diingat adalah bahwa untuk sampai pada predikat muslim sejati,

Seorang mujtahid juga harus seorang mujahid, jika tidak maka ia tidak memiliki ruhul jihad yang dampaknya ketika menggali suatu hukum tidak tahan banting, malasmalasan, asal-asalan sehingga hukum yang ditelorkan akan salah. Disamping itu Ia juga harus seoranga pelaku mujahadah, sehingga produk hukum atau fatwa yang ia keluarkan tetap dalam bimbingan wahyu. Jika tidak maka produk hukumnya justru malah keluar dari ruh at-tasyri (jiwa dari syariah) atau maqashid al-syariah (tujuan dari disyariatkan hukum) yang produk hukumnya itu justru mengakibatkan mafsadah atau kerusakan, fatwafatwanya menimbulkan bencana bagi orang lain.

Seorang mujahid itu juga haruslah seorang mujtahid. Jika tidak maka ia akan salah menentukan medan peperangan yang sesungguhnya. Ia hanya akan terbakar oleh api semangat dan amarah yang sejatinya adalah tipu daya nafsu yang sunyi dari nilai-nilai dan tujuan syariat Islam yang sesungguhnya, Apakah sudah cukup dengan dua hal tersebut?
Jawabnya belum! Ia juga harus sebagai pelaku mujahadah sehingga dalam mengambil keputusan untuk berjihad tidak salah dan tetap dalam bimbingan kesucian jiwa dan keberhsihan hatinya. Sehingga kalaupun ia mati tidalah mati sia-sia. Alih-alih ingin mati syahid malah mati sangit (terpanggang).

Begitu juga pelaku mujahadah. Ia juga harus seorang mujtahid sehingga ia tidak terjebak dalam dunia klenik, aliran atau sekte yang sesat. Apakah sudah cukup ? jawabnya Belum ! ia juga harus seorang mujahid. Jika tidak maka ia akan terjebak pada praktek keagamaan yang patalis, hanya terpekur dipojok masjid bertemankan seuntas tasbih, asik
dengan dunianya sendiri, tidak mau terjun kemedan perjuangan dakwah yang sesungguhnya; membimbing dan mencerahkan umat, mengentaskan kemiskinan, membela kaum mustadáfin.

Wa Allahu al-A’lam bi al- Shawab
Bintaro – Pd.Ranji, 3 Desember 2016

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *