KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI DONGENG DI MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) 1


KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI DONGENG DI MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

Utami Maulida

Bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi melalui lisan dan tulisan, berkomunikasi melalui lisan yaitu dalam bentuk simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa pun merupakan alat ekspresi diri dan sekaligus menunjukan identitas diri. Sehubungan dengan bahasa terdapat keterampilan dasar berbahasa, yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang patut dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali anak didik untuk mengembangkan bahasa di samping aspek penalaran dan hafalan Anak didik memiliki keterlibatan secara totalitas dalam KBM, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan). Dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak anak didik untuk mendengarkan, menyajikan metode yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.

Dongeng adalah bagian dari sastra lama berbentuk prosa yang bercerita tentang kejadian penuh khayalan tinggi dan masyarakat mengganggapnya hal yang tida benar-benar terjadi. Dongeng merupakan salah satu karya sastra yang digemari anak-anak ketika menduduki bangku Madrasah Ibtidaiyah, hal ini karena anak- anak sangat s
uka bercerita dan sangat suka mendengar cerita, serta memiliki daya khayal yang tinggi.

Pendidikan dasar khususnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar calistung ”baca-tulis-hitung”, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi anak didik sesuai dengan tingkat perkembangan. Terkait dengan tujuan memberikan bekal kemampuan dasar ”baca-tulis”, maka peranan pengajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang bertumpu pada kemampuan dasar ”baca-tulis”, pembelajaran tidak hanya pada tahap belajar di kelas-kelas awal tetapi juga pada kemahiran atau penguasaan di kelas-kelas tinggi.

Pada umumnya anak sekolah tingkat dasar khususnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) menyukai dongeng atau cerita, baik cerita dalam buku ataupun cerita yang diceritakan orang lain. Bercerita merupakan salah satu metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak. Djuanda dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar mengemukakan bahwa melalui bercerita kemampuan berbahasa anak didik akan terlihat. Bahkan tidak hanya bahasa namun juga ekspresi dan keterampilan. Keterampilan berbicara setiap anak berbeda-beda, hal ini menuntut seorang guru untuk melatih anak didiknya semaksimal mungkin. Tujuan meningkatkan keterampilan berbicara tersebut dimaksudkan agar anak-anak Madrasah Ibtidaiyah mampu memahami pembicaraan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari anak didik dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Agar anak didik dapat meningkatkan keterampilan berbicaranya, guru dapat menggunakan metode bercerita dalam proses pembelajarannya. Karena dalam bercerita anak didik dapat mengekspresikan diri sehingga secara langsung dapat melatih keterampilan berbahasanya. Bercerita itu sendiri terdapat metodenya yang sangat penting peranannya, karena metode merupakan cara dalam mencapai tujuan dalam pembelajaran.

Dalam bercerita ada langkah-langkah yang harus ditempuh agar pembelajaran keterampilan berbicara dapat berjalan dengan baik, yaitu:

  • Guru memilih judul dongeng yang menarik,
  • Guru mengatur posisi duduk anak,
  • Sebelum memulai bercerita, guru sebelumnya menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan di ajarkan,
  • Guru merangsang anak agar mau mendengarkan dan memperhatikan isi cerita,
  • Guru menceritakan dongeng di depan anak dengan suara lantang dan lugas, olah gerak, dan ekspresif,
  • Setelah bercerita, guru memberi kesempatan untuk anak –anak bercerita di hadapan teman-temannya secara bergantian, dan
  • Guru melakukan penilaian, reward bagi anak yang sudah terampil dan memotivasi bagi anak yang belum terampil.

 


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI DONGENG DI MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

  • Iin sulastri

    Great..sukses,smgt sllu atas hasil karyanya yang pasti penuh perjuangan dalam menyelesaikan semua itu.salute n respect on u bu Utami Maulida,S.S,M.pd smg ke depan bs mjd narator dan menjadi penulis besar atas karya2 ibu yang kelak di dedikasikan oleh semua pendidik untuk mentransfer ilmu yang penuh faedah kepada tunas bangsa ini khususny dalam materi pendidikan bahasa.